Surat Raja Sriwijaya Untuk Kalifah

S Fatimi, seorang sejarawan Malaysia menulis dan dikutip oleh Azyumardi Azra dalam bukunya Islam Nusantara bahwa ada dua buah surat yang kemungkinan besar ditulis oleh Raja Sriwijaya untuk Kalifah Arab. Bagian pembukaan dari surat pertama dikutip oleh al Jahiz dalam bukunya Kitab al Hayawan (Buku Fauna) berdasarkan 3 rantai isnad.


Gambar dari buku Mahluk Ajaib nya Qazwini memperlihatkan Raja duduk disinggasana memakai mahkota emas dikelilingi perempuan telanjang (atau kasim/sida-sida?)

Surat pertama ditujukan untuk Mu’awiyah dan pembukaan surat itu kalau diterjemahkan kurang lebih seperti ini:

(Dari Maha Raja) - yang istalnya berisi ribuan gajah, istananya berkilau emas dan perak, dilayani oleh ribuan puteri raja, yang menguasai dua sungai yang mengairi gaharu - untuk Muawiyah
Surat kedua lebih lengkap karena terdapat pembukaan dan isi, terdapat dalam buku Ibnu Abdul Rabbih Al Iqd al Farid (Kalung Istimewa) ditujukan untuk Kalifah Umar bin Abdul Azis memperlihatkan betapa mewahnya Maharaja dan kerajaannya:
Dari Raja Diraja - yang keturunan ribuan raja, yang diistalnya terdapat ribuan gajah, dan menguasai dua sungai yang mengairi gaharu, tanaman harum, pala dan barus, yang keharumannya menyebar sejauh dua belas mil - untuk Raja Arab, yang bertuhan esa. Saya memberimu hadiah yang tidak seberapa sebagai tanda sapa dan saya harap anda berkenan mengirim seseorang yang bisa mengajar tentang Islam dan menerangkannya kepada saya.

Ibnu Taghribirdi dalam bukunya al Nujum al Zahirah fi Muluk Misr wa al Qahirah (Perbintangan Terang Raja Mesir dan Kairo) mempunyai tambahan untuk akhir surat ini: “Saya mengirim hadiah jebat (musk), batu ratna, dupa dan barus. Terimalah dari saudara Islammu.”

Fatimi memperkirakan suat-surat itu diterima Kalifah sekitar tahun 100H/717, yaitu masa pemerintahan Sri Indrawarman. Sriwijaya merupakan kerajaan Buddha dan belum ada bukti peninggalan bahwa dibawah Sri Indrawarman Sriwijaya pernah memeluk Islam.

Membaca surat ini betul-betul menimbulkan kebanggaan kepada kita, betapa Nusantara telah memiliki kerajaan yang sangat makmur di Suarnadwipa - Pulau Emas- sejak dahulu kala, dengan perdagangan dan kontak internasional, raja yang sangat percaya diri dan penuh rasa ingin tahu.

Islam in Indonesian world


Asia Research Institute

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar