Peninggalan Emas Peradaban Islam di Maroko

Kota Fez Yang Memiliki Kekayaan Sejarah

Fez, 198 km timur Rabat, adalah kota kebudayaan terpenting di Maroko, bahkan di kawasan al maghrib al arabi. Nilai sejarah yang dimiliki Fez, bisa disejajarkan dengan Kairouan di Tunisia, dan Kairo di Mesir.

Pada tahun 172 H/ 789 M, Idris I bin Abdullah, salah seorang keturunan Ali RA, dapat membentuk Kerajaan Idrisid, yang kemudian bertahan hingga tahun 364 H/ 974 M. Tahun 177 H, Idris I dibunuh dan digantikan Idris II pada 810 yang pada masanya mencapai kemajuan dan menempatkan kota Fez sebagai Ibu kota. Fez didirikan pada abad ke 8 oleh penguasa idrisiyah. Dalam perkembangannya kota ini semakin maju dan bernuansa arab setelah kehadiran imigran dari kota kordoba dan qayrawan (tunisia). Mereka banyak membangun masjid dan universitas Qarawiyin yang menjadikan fez sebagai pusat ilmu islam terkemuka. Meskipun sempat mengalami kemuduran karena ibukota maroko sempat dipindah k marrakesh,dan sekarang hanya sebagai kota provinsi. Fez tetap menyimpan banyak sejarah panjang negeri maroko. Ia tetap menjadi pusat keagamaan tradisional.

Fez adalah kota ketiga terbesar di Maroko ini (setelah Casablanca dan Rabat) konon pada kurun waktu tahun 1170 - 1180 adalah kota terbesar didunia, saat itu menjadi ibukota Kerajaan Fez. diteruskan oleh putranya - Idris II, kini merupakan salah satu dari empat “imperial cities” di Maroko, selain Marrakesh, Meknes dan Rabat.Kota kuno ini terdiri tiga bagian, Fes el Bali (The Old, Walled City), Fes-Jdid (New Fes, Home of the Mellah)-bagian orang Yahudi, dan The Ville Nouvelle (the French-created, Newest Section of Fes).

Daerah Gate adalah sepenggal sisa benteng kuno didaerah ini masih sangat terawat sehingga setiap wisatawan yang datang kemari masih bisa melihat peninggalan sejarah kemajuan umat Islam. Labyrinth yang legendaris, yang terletak didalam Medina/ Old City dari Fez merupakan kota perdagangan kuno dari abad 9. Disinin terdapat banyak sekai lorong-lorong kecil ini sempit beralas bebatuan itu banyak sekali toko kecil-kecil yang menjual begitu beragamnya barang, baik makanan/minuman, pakaian, souvenir.

Di kota Fez ini terdapat bangunan kuno/bersejarah yang masih bagus kondisinya, antara lain Mesjid Najjerine yang tempat ambil air wudhunya cantik dan antik sekali. Mesjid Qarawiyyin yang kelihatan kuno sekali, dibangun pada tahun 859 yaitu pada masa pemerintahan Yahya ibn Muhammad. Mesjid ini adalah salah satu mesjid tertua dan terbesar di Afrika.

Fez pada masa dulu, adalah pusat peradaban Islam dan kota ilmu. Di kota ini, terdapat Mesjid Qurawiyyin. Didirikan pada tahun 857 M, yang menjadi cikal bakal Universitas Qurawiyyin. Juga terdapat makam para sufi dan ulama terkenal yang menjadi obyek ziarah populer umat Islam, termasuk para ulama/kyai dari Indonesia. Seperti makam Syekh Abal Abbas Ahmad at-Tijani, pendiri tarekat at-Tijaniyah, serta makam Syeh Abu Abdulloh Muhammad bin Muhammad bin Daud as-Shonhaji, wafat tahun 723, pengarang kitab al-Jurumiyah yang terkenal di seluruh pesantren di Indonesia.

Di era modern, Fez juga melahirkan banyak cendekiawan. Seperti Alal al Fasi, ahli Ushul Fiqh yang terkenal dengan bukunya, Maqasid as Syariah ai Islamiyyah wa Makarimuha. Juga ada Fatima Mernissi, tokoh feminisme yang sudah tak asing lagi dalam dunia pemikiran Islam kontemporer.

Al Qarawiyyin: Universitas dan Masjid Tertua yang Bersejarah

Perguruan tinggi yang berada di kota Fez, Maroko itu didirikan pada tahun 859 M. Universitas Al-Qarawiyyin sebagai perguruan tinggi tertua dan pertama di dunia. Di awal abad ke-9 M, ketika Fez masih seperti sebuah dusun, sang penguasa wilayah itu berdoa sembari menangis. ”Ya Allah, jadikanlah kota ini sebagai pusat hukum dan ilmu pengetahuan, tempat di mana kitab suciMu, Alquran akan dipelajari dan dikaji.”

Doa sang penguasa itu akhirnya dikabulkan. Fatimah Al-Fihri, puteri seorang saudagar kaya-raya bernama Muhammad Al-Fihri akhirnya mewujudkan impian sang penguasa Fez itu. Fatimah dan saudaranya Mariam adalah dua perempuan terdidik yang mewarisi harta yang melimpah dari sang ayah. Fatimah lalu menggunakan harta warisannya itu untuk membangun sebuah masjid.

Cikal bakal Universitas Al-Qarawiyyin pertama di muka bumi itu bermula dari aktivitas diskusi yang digelar masjid itu. Komunitas Qarawiyyin masyarakat pendatang yang berasal dari Qairawan, Tunisia di kota Fez menggelar diskusi itu di emper Masjid Al-Qarawiyyin.

Universitas Al-Qarawiyyin selalu mendapat perhatian dari para sultan yang berkuasa. Sultan abu syahid sangat peduli dengan pendidikan. Para sultan tak pernah lupa untuk menyokong kegiatan keilmuan yang dilakukan universitas itu. Tak heran, bila subsidi serta dana kas negara secara khusus dialokasikan untuk menopang kegiatan akademik. Selain bantuan dana, para sultan juga menyuplai buku untuk universitas itu.

Universitas tertua di dunia itu tercatat berhasil mengumpulkan sejumlah risalah penting dari berbagai disiplin ilmu. Kompilasi manuskrip penting itu disimpan di perpustakaan yang didirikan oleh Sultan Abu-Annan, penguasa Dinasti Marinid. Beberapa risalah penting yang tersimpan di perpustakaan itu antara lain; ‘Mutta of Malik’, ditulis tahun 795 M; Sirat Ibn Ishaq, ditulis tahun 883 M, salinan kitab suci Alquran yang dihadiahkan Sultan Ahmed Al-Mansur Al-Dhahabi kepada universitas tahun 1602.

Selain itu, perpustakaan itu juga menyimpan salinan asli buku karya Ibnu Khaldun berjudul ‘Al-’Ibar’. Ilmuwan Muslim terkemuka itu menghadiahkan buku yang ditulisnya itu kepada perpustakaan itu tahun 1396 M. Selama 12 abad lamanya, Universitas Al-Qarawiyyin telah menjelma menjadi pusat studi ilmu pengetahuan dan spiritual terkemuka dan penting di dunia Islam. Universitas ini telah meluluskan sederet sarjana dan ilmuwan Muslim terkemuka, seperti Abu Abullah Al-Sati, Abu Al-Abbas al-Zwawi, Ibnu Rashid Al-Sabti (wafat 1321 M), Ibnu Al-Haj Al-Fasi ( wafat 1336 M) serta Abu Madhab Al-Fasi - yang memimpin generasinya dalam mempelajari faham Maliki.

Rofita Fadilatin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar