Perang Aceh, Dalam Ingatan Bangsa Belanda



--------
Ratu, akan sangat indah sekali jika kita bisa berbaik kembali dengan rakyat Aceh, yang sudah berperang dengan kita begitu lama di masa lalu. Pada tahun 1873 kita mengumandangkan perang pada Aceh. Tetapi perdamaian dengan Aceh tidak pernah tercapai. Tidak pernah. Kini tiba waktunya untuk menyatakan penyesalan kepada Aceh. Permintaan maaf sejujur-jujurnya dari hati yang terdalam...
--------


Penulis oleh Nico Vink



Tahun 1600, serangan di Nieuwpoort. Siapa yang masih membicarakan Perang Aceh? Siapa yang tahu mengapa Gubernur Jendral Loudon di Batavia (Jakarta) yang otokratis, keras kepala, impulsif dan gigih memulai perang melawan Aceh tahun 1873? Berapa tahun perang ini berlangsung? Siapa yang tahu di sungai mana, di benteng Aceh yang mana, di semak belukar yang mana, di bukit dan gunung yang mana, di kampung yang terbakar mana serta kebun kelapa yang mana tempat para serdadu Belanda dan Aceh saling melemparkan klewang satu sama lain?


Siapa yang masih ingat nama kampung-kampung di Aceh tempat para pejuang Aceh dapat berleha-leha dengan 70 bidadari yang cantik setelah ’pasifikasi’, ’ekskursi’, ’pendisiplinan’ Belanda? Masih ingatkah kita bagaimana Jendral Köhler, komandan pasukan invasi Belanda tahun 1873, terbunuh di bawah pohon geulumpang dekat Mesjid Raya di Kutaraja? Tentang Jendral van der Heijden, alias Kareltje Eénoog, yang bersujud kepada orang-orang Aceh menyatakan terima kasihnya karena dia masih bisa selamat?



Siapa pula yang masih ingat tentang Belanda yang sebelum melancarkan Perang Aceh Kedua mengaktifkan kembali Jendral van Swieten yang sudah pensiun? Siapa yang tidak pernah mendengar bertahun-tahun kemudian, setelah Perang Aceh yang kesekian-kalinya, cerita Jendral Van Heutz tentang para serdadu KNIL yang runtuh semangatnya, namun kemudian terinspirasi oleh pemikiran Snouck Hurgronje, seorang Belanda yang mendalami Islam, maka semangat bertempur para serdadu itu bangkit kembali? Yang dengan tenang mengejar dan membuat kaget orang-orang Aceh di gunung-gunung dengan senjata modern, klewang dan taktik anti-gerilya yang baru.


Van Heutsz yang menangkap orang Aceh yang pemberani dan pecinta kemerdekaan, pertama-tama kakinya dulu, kemudian lehernya dan dengan hati-hati dipukulnya lalu kemudian mencoba mengambil hati mereka. Terakhir, siapa yang tidak mengenal –saya hanya menyebut satu nama saja sementara ini – Van Daalen yang kejam, seorang militer yang memandang rendah pribumi.


Pada aksi kontra terorisnya, kekejaman dan kesadisan bukan hanya sesekali tetapi sistematis. Sebagaimana yang ditulis seorang polisi militer dengan nama samaran ’Wekker’ – yang pernah dipermalukan oleh Van Daalen – pada tahun 1907 melalui 17 artikel di koran ’De Avondpost’ (Koran Malam) yang terbit di Den Haag ,” para tahanan dibunuh (sebagai pelajaran lalu jasad mereka dijajarkan), kaum wanita dan anak-anak ditembak, para pemberi informasi yang ragu-ragu disiksa, para sandera disekap dalam kurungan, rumah tinggal, mesjid dan kampung-kampung dibakar habis.” (1)



Sesudah Van Heutsz diangkat menjadi gubernur jendral bersama dengan komandan militer Belanda saat itu atas perintah Menteri di Den Haag, maka kritik di parlemen pun mereda. Van Daalen dibebaskan dari segala tuduhan (harusnya diadili dulu oleh pihak yang netral). Angkat topi.


Nama-nama para pemimpin besar Aceh saat itu seperti Tiro, Panglima Polim, Teuku Umar dan istrinya yang penuh semangat perjuangan, Cut Nya Dien, saya rasa tidak perlu dipertanyakan lagi. Ambil contohnya Teuku Umar. Pada awalnya beliau membiarkan dirinya didekati oleh Belanda, mendapat titel yang baik dan ribuan prajurit Aceh di bawah komandonya dilatih dan dipersenjatai oleh Belanda yang ’tidak beragama’. Setelah itu beliau menyeberang ke kubu Aceh, musuh Belanda. Di mata penjajah tindakannya dianggap sebagai sebuah pengkhianatan besar.


Tetapi orang Aceh yang bertelanjang kaki menilainya tidak demikian. Di mata mereka, Belanda terperosok dalam perangkap Teuku Umar. Janda Teuku Umar, Cut Nya Dien, juga mempunyai semangat berjuang yang berkobar. Dengarlah bagaimana beliau mengimbau agar rakyat Aceh berjuang melawan penjajah.





Rakyatku, orang-orang Aceh, ingatlah ini, jangan pernah lupakan! Mereka menentang Allah dan membakar Mesjid Raya (di Kutaraja)! Jangan pernah lupakan dan jangan pernah memaafkan para kafir Belanda!! Perlawanan Aceh tidak hanya dalam kata-kata.” (2)


Tentu saja di Belanda ada sekitar 44 atau 444 orang Belanda asli, Indo, para pensiunan KNIL di Bronbeek. Belum lagi orang Maluku, anggota Yayasan Kerkhof Pecut, dosen universitas yang muda dan tua, para pelajar asal Aceh, kelompok pecinta literatur Indische Letteren, keturunan para pegawai pemerintah Belanda dan para pengajar sekolah dasar Eropa di Hindia-Belanda, dulu, yang tahu soal Perang Aceh. Kadang mereka malah sangat banyak tahu hingga membuat kita terkejut. Tetapi lebih dari itu saya kira hanya tinggal sejarah. Menyedihkan.



Dari mereka yang menganggap Perang Aceh sudah mati, kita tidak mendengar lagi kisah tentang perang ini. Logis. Yang lainnya,Bagi mereka yang menganggap Perang Aceh belum sepenuhnya mati, masih sesekali menulis, bahwa ’peringatan tentang Perang Aceh tampaknya sudah mati, sebuah masa lalu yang sudah mati,” (3)


Mereka tidak menyesalinya sama sekali, karena kita tidak bisa belajar apa-apa lagi dari perang ini, begitu pendapat mereka. Sementara yang setengahnya lagi, para ahli literatur dan sejarawan, dengan fakta-fakta kosong juga telah membuat perang ini seolah-olah mati.


Contohnya adalah Menke de Groot. Untuk merehabilitasi nama Kapten Borel yang memimpin Pasukan Hindia-Belanda dan membebaskan tuduhan terhadap Jendral Swieten, pemimpin KNIL yang dituduh bersalah melakukan pembakaran dan pembunuhan massal, maka pada tahun 2009 beliau menulis sebuah buku tebal tentang Perang Aceh Kedua membahas kedua pemimpin tersebut (4).


Bagaimana orang dapat percaya padanya, diperlukan penjelasan. Hati-hati dengan pendapat sembrono orang-orang seperti Multatuli dengan pemikiran filantropisnya yang menyesatkan tentang Perang Aceh, demikian serunya. Sayang sekali bahwa de Groot dalam buku edisi cetak ulangnya hanya menyebut ’lembaga militer’dalam Perang Aceh Kedua. Padahal Perang Aceh Pertama, Ketiga dan Keempat sama sekali tidak identik dengan Perang Aceh Kedua.



Akan sangat menarik sekali jika de Groot menempatkan Perang Aceh ’nya’ dalam konteks kolonial, dengan sudut pandang saat itu dan sudut pandang saat ini. Sayang sekali beliau tidak menangkap kesempatan itu.


Berbagai lagu rakyat Belanda menunjukkan bagaimana pada saat terjadinya Perang Aceh kita melihat diri kita sendiri sebagai penjajah Belanda yang beradab dan Aceh yang barbar, serta bagaimana beruntungnya saat itu bagi Aceh karena kita ingin ’menciptakan perdamaian’ di sana.


Paasman mencatat, banyak tentang lagu-lagu tersebut adalah lagu untuk membangkitkan semangat, lagu tentang keadilan, lagu tentang polisi militer, lagu perpisahan, lagu peringatan, lagu tentang pahlawan, lagu jalanan, lagu cinta mendayu-dayu dan lagu-lagu kabaret (5).. Contohnya lagu Militair Atchinlied karya P Haagsma, (6)


“Naar Atchin, de Kraton! Daar zetelt het kwaad.
Schuilt ontrouw, broeit zeeroof en smeulde verraad;
Roeit uit dat geboredsel, verneder die klant;
Met Nederlands driekleur ‘beschaving’geplant.”
Ke Aceh, Kerajaan! Disanalah bersarangnya kejahatan.
Sembunyikan kepalsuan, sarang bajak laut dan penuh pengkhianatan;
Teriakilah kekacauan itu, permalukanlah;
Dengan ’peradaban’Belanda tiga warna.



Setiap pembunuh muda menyanyikan lagu jalanan yang populer ini, (7)
En Teuku Oemar, die moet hangen;
Aan een touw, aan een touw,
Teuku Oemar en zjn vrouw.
Dan Teuku Umar, harus digantung;
Dengan tali, dengan tali,
Teuku Umar dan istrinya.


Para pahlawan Hindia-Belanda yang gagah berani pun tak dilupakan, (8)
Wie kent er niet die brave zielen
Die aan het verre Atjehstrand
Al voor de eer van Nederland vielen
't Rood, Wit, Blauw in hun verstijfde hand?
We zullen hunnen assche eeren, wreken,
En waar ik ga of sta of zit, zal ik hun naam met eerbied spreken
Want dat waren jongens van Jan de Witt.
Siapa yang tidak kenal jiwa-jiwa yang berani
Yang berjuang di pantai Aceh yang jauh
Gugur demi kehormatan Belanda
Warna merah, putih dan biru di tangan mereka yang sudah kaku?
Kita akan menghormati dan membela jasad mereka,
Dimanapun aku berada, berdiri atau duduk, aku akan menyebut nama mereka dengan penuh hormat.
Karena mereka adalah para pemuda Jan de Witt.



Kumpulan puisi yang sesungguhnya untuk orang dewasa. Puisi bertema kepahlawanan yang benar-benar khas Belanda, termasuk lagu pengantar tidur tentang Perang Aceh, sejauh yang saya tahu belum pernah ditulis. (Bersambung.....)

Perang Aceh, Dalam Ingatan Bangsa Belanda (2)



Tentu saja ada juga suara-suara yang kritis tentang Perang Aceh, di antaranya dari Multatuli yang sudah kita kenal, yang tanpa basa-basi menulis sebuah surat 'kepada Raja' sebagai berikut, ”Gubernur Jendral Anda (James Loudon-Red) saat ini berada pada posisi untuk memaksakan kehendaknya dengan mengumandangkan perang pada Sultan Aceh, dengan alasan yang dibuat-buat, seolah-olah sebagai suatu tindakan yang wajar dilakukan, dengan tuntutan agar Sultan Aceh menyerahkan kedaulatannya. Hal ini sama sekali tidak terhormat, tidak bermartabat, tidak dapat dipahami.” (9)


Saya juga sudah menyebut tentang ’Wekker’, seorang polisi menulis 17 artikel kritis di koran Den Haag ’De Avondpost’. Artikel-artikel yang menimbulkan keresahan di Belanda, setidaknya di parlemen. Namun persoalan ini dianggap tidak ada dan tidak dicari pemecahannya. Para penulis seperti Zentgraff sebelum Perang Dunia Kedua (10) dan van ’t Veer (11) dan Bossenbroek (12) tidak menghargai keterlibatan KNIL dalam Perang Aceh. Salah satu kutipannya, ”Kampung Kuto Reh yang diserang, 11 Juni 1904. Dua Belanda tewas. Aceh kehilangan 313 pria, 189 wanita, 59 anak-anak.”



Komandan Van Daalen memerintahkan agar jenazah yang bergelimpangan difoto. Seorang Letnan bernama Colijn yang beragama Kristen menulis kepada istrinya dalam Bahasa Belanda sehari-hari, ”Pekerjaan yang tidak menyenangkan tetapi tidak ada pilihan lain. Para serdadu berpesta menghujani mereka dengan bayonet.”.


Setelah tahun 1945 muncul perhatian dari berbagai pihak tentang Perang Aceh. Misalnya Madelon Székely-Lulofs yang menulis roman tentang pejuang Aceh Cut Nya Dien (14). Atau roman yang menggugah berjudul Wisselkind yang terbit tahun 1998 yang ditulis Basha Fabers (15). Paul van ’t Veers dengan karyanya yang menawan berjudul De Atjeh-oorlog (Perang Aceh) tahun 1869 (16). Atau buku De verbeelding van een koloniale oorlog (Gambaran sebuah perang kolonial) tahun 2001 yang disusun oleh Liesbeth Dolk (17) berisi tulisan sepuluh penulis yang menggambarkan Aceh melalui pers, literatur, seni dan film.


Ingatan tentang Perang Aceh sesudah 2001 tidak berhenti begitu saja, oleh sebab itu perlu ditelaah aktualisasinya. Pada tahun 2004 muncul skripsi doktoral yang tidak begitu dikenal yang ditulis oleh Lucia Hogervorst, van etnocentrisme naar cultuurrelativisme (18) (Dari Etnosentrisme ke Relativitas Budaya). Isinya mengenai pendapat umum di Belanda setelah tahun 1945 tentang sejarah kolonial. Beliau mendasarkan penelitiannya antara lain pada buku sejarah di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama pada tahun 1950-an, 70-an dan 90-an tentang Perang Aceh.


Setelah itu ia mengukuhkan pendapatnya sekali lagi melalui tulisannya De (niet te) vergeten oorlog in Atjeh (Perang di Aceh yang (tidak untuk) Dilupakan) melalui penerbitan khusus pada tahun 2010 untuk memperingati ’65 tahun berakhirnya Perang Dunia Kedua’(19). Pendidikan Protestan pada tahun 1950-an menceritakan kisah tentang seorang Sultan Aceh (seorang bangsawan yang berdaulat - Red) yang tidak mau tunduk pada Pemerintah Belanda dan masyarakat Aceh yang dipandang sebagai para bajak laut yang beringas, oleh sebab itu mereka harus dikoreksi.


Maka anggapan ‘harus dikoreksi’ inilah yang menjadi alasan mengapa Belanda menduduki Aceh (‘menduduki’ bagi Aceh sama dengan menyerang dan menjajah- Red). Buku sejarah di sekolah Katolik nyaris tidak memberi informasi tentang Perang Aceh itu sendiri tetapi menceritakan ratusan kali tentang Pendeta Verbraak yang bertahun-tahun bertugas menangani ‘jiwa-jiwa damai para pemberani’.



Buku itu memuji perjuangan para serdadu Pasukan Hindia-Belanda yang pemberani. Dengan perjuangan berat para serdadu Belanda berhasil mengembalikan ketentraman di Aceh sementara orang Aceh sendiri ’sesekali’ masih melawan Belanda (‘mengembalikan ketentraman’seolah-olah Aceh yang pribumi sudah secara sah menjadi bagian dari Kerajaan Belanda- Red).


Tetapi murid sekolah sebenarnya tidak belajar bagaimana Belanda selama bertahun-tahun menjadi bagian dari petualangan keserakahan, bersaing dan berseteru dengan sesama negara Eropa lain untuk mencari keuntungan dan kekayaan di belahan dunia lain yang jauh dan belum dikenal. Orang Belanda yang baik harus mencari keuntungan, bukan dengan jalan kebaikan tetapi dengan menimbulkan banyak kerusakan. Maka Aceh pun menjadi korban dari keserakahan itu.


Kepada rakyat Belanda dikatakan bahwa pendudukan dilakukan untuk mengakhiri bajak laut di Aceh. Kepada Amerika dan negara Eropa lain menurut kabar burung (yang tidak diuji kebenarannya) dikatakan bahwa tindakan itu dilakukan untuk mempersiapkan kesepakatan yang menguntungkan dengan Sultan Aceh dan untuk mengambil alih wilayah kekuasaannya.


Maka Gubernur Jendral di Batavia secara tergesa mengumumkan perang dengan Sultan Aceh dan mendaratlah pasukan ekspedisi Belanda pada tanggal 8 April 1873 di Aceh. Tetapi ketika Jendral Belanda, Köhler, yang berkuasa tewas terbunuh di bawah pohon geulumpang dekat Masjid Raya di Kutaraja maka tewas pula kekuasaannya dan ekspedisi pertama itu pun gagal.


Pada tahun 1874 terjadilah Perang Aceh Kedua di bawah pimpinan Jendral van Swieten yang pensiun namun diaktifkan kembali. Ketika kerajaan milik Sultan Aceh diduduki, dengan penuh kemenangan beliau mengirim pesan ke Belanda ‘kerajaan sudah kita duduki’, tetapi yang sebenarnya terjadi adalah kerajaan itu kosong melompong dan burung-burung pun beterbangan dari dalamnya.



Sesudah itu diikuti oleh tahun-tahun penuh kritik terbuka dari para bawahan di antara yang menonjol adalah Kapten Borel. Muncul lagi seorang jenderal baru, kali ini dengan taktik pertahanan 16 benteng di sekitar Kutaraja. Mereka bertahan selama bertahun-tahun dengan cara bersembunyi di benteng-benteng tersebut, demikian menurut Snouck Hurgronje.


Kemudian muncul Jendral Karel van der Heijden, alias Kareltje Eénoog (Karel Bermata Satu), setelah beliau kehilangan satu matanya dalam peperangan. Taktiknya adalah ‘hukuman sebagai pelajaran’, dengan kata lain ribuan orang Aceh dibunuh dan ratusan kampung di Aceh habis dibakar, tetapi kemenangan perang tetap tidak tercapai. Kemudian diikuti oleh Jendral Van Heutsz yang kali ini mendapat giliran.


Terinspirasi oleh visi spesialis Islam asal Belanda, Snouck Hurgronje, beliau menjalankan taktik aksi kontra gerilya yang bergerak ofensif secara berkala ke pedalaman Aceh yang bergunung-gunung, yang untuk beberapa waktu lamanya belum terjamah manusia.


***



Anda bisa membayangkan Van Heutsz, dengan tangan di belakang, perut buncit, memberi kesan sebagai seorang militer superior yang arogan. Tetapi di bawah kepemimpinan penerus Van Heutsz, yaitu Van Daalen, baru terjadi perubahan.





Selama ‘ekspedisi’nya ke pedalaman Gayo dan Alas, semua isi kampung dibunuh. Van Daalen dan pasukannya memerintahkan agar apa yang mereka lakukan diabadikan melalui foto, dengan penuh kebanggaan, yaitu tumpukan mayat dengan seorang anak lelaki yang kebetulan selamat dari huru-hara itu disampingnya.



Para pejabat Belanda yang dipermalukan oleh Van Daalen menulis secara anonim kenyataan yang mencengangkan itu di koran-koran Belanda. Para anggota Parlemen yang terkejut (di antaranya Victor de Stuers) mengkritik bahwa ’Pemerintah menyebutnya ekskursi, tetapi saya menyebutnya sejarah pembunuhan’. Koran Het Volk menulis pada tanggal 17 Juli 1904 ‘sebuah negara yang beradab dan berperikemanusiaan tidak seharusnya menyanjung seseorang (Van Heutsz) yang telah menumpahkan darah’.


Maka dalam sekejap berubahlah gambaran tentang negara Belanda yang beradab yang bukan melancarkan perang melainkan pasifikasi dan mengembalikan ketenangan serta menegakkan peraturan, menjadi negara Belanda yang berkhianat, tidak dapat dipercaya, terbius oleh opium dan seks. Tiba-tiba orang-orang Belanda bukan pahlawan lagi melainkan para pembunuh massal.


Sejak tahun 1970-an buku-buku sejarah tidak lagi menampilkan kisah-kisah kepahlawanan melainkan informasi berdasarkan fakta yang ditulis secara singkat, contohnya ’setelah perjuangan berdarah selama bertahun-tahun maka Aceh berhasil dikuasai. Banyak korban pribumi yang jatuh’. Pada tahun 1990-an ditulis demikian ’hingga tahun 1900 orang Belanda hanya ingin mencari untung di Indonesia.


Lalu pada tahun 1873 orang Belanda ingin menguasai Aceh karena di sana banyak sumber minyak dan gas sehingga orang Belanda harus melancarkan perang. Orang Aceh melakukan perlawanan’ (yang benar adalah orang Aceh yang pecinta kemerdekaan ingin tetap merdeka, maka dengan segala kekuatan mereka menolak agresi Belanda. Itu berbeda artinya dengan melakukan perlawanan- Red).



Ketika akhirnya orang Aceh berhenti melawan, hal itu bukan menyerah seperti yang dipikirkan Belanda, tetapi mereka ’mencuri’ waktu untuk kelak bersama-sama dapat bangkit lagi dan mengusir Belanda dari Kutaraja sesaat sebelum Jepang menyerang Aceh pada bulan Maret 1942. Sebagaimana yang dicatat sejarah.


Pameran Van heldendaad tot schandvlek – het Nederlands koloniaal verleden in de geschiedenisboekjes (Dari tindakan patriotik menjadi noda yang memalukan - Penjajahan Belanda di masa lalu dalam buku sejarah) di Museum Pendidikan Nasional di Rotterdam tahun 2005 mendapat inspirasi dari skripsi doktoral Lucia Hogervorst. Pameran yang sama pada tahun 2006 digelar di Museum Bronbeek di Arnhem dengan menggunakan judul Het Nederlands koloniaal verleden in de geschiedenisboekjes(Pejajahan Belanda di Masa Lalu dalam Buku Sejarah).



Foto (1) Kontroversi - (Klik untuk memperbesar)



Judul Van heldendaad tot schandvlek (Dari tindakan patriotik menjadi noda yang memalukan) tampaknya tidak dapat diterima di Arnhem karena dianggap terlalu peka untuk para pejuang Bronbeek. Kepekaan yang sama juga tercermin melalui komentar-komentar pers tentang pameran di Rotterdam seperti dalam koran NRC dan Nederlands Dagblad yang berkiblat Protestan.


Bagaimana di Aceh? Pada awalnya Aceh bersikap antusias setelah Perang Dunia Kedua dengan dinyatakannya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Tetapi tak lama kemudian Aceh segera menyadari munculnya kolonialisme Jakarta. Maka dimulai lagi perjuangan kemerdekaan yang sengit selama bertahun-tahun. Tiba-tiba terjadi tsunami tahun 2004, sebuah tragedi di luar batas kemanusiaan.


Tetapi Perang Kolonial Belanda di Aceh tampaknya berhasil bertahan dari bencana itu. Puisi-puisi kepahlawanan masih ditemukan (20). Contoh yang menarik misalnya Hikayat Perang Sabil dari Abad ke-19. Hikayat bercerita tentang perang mempertahan diri yang terjadi di Aceh melawan penjajah Belanda yang agresif dan dengan cepat menarik simpati orang Aceh yang beragama Islam. Pesan Hikayat yang kuat sangat sesuai dengan jiwa perjuangan rakyat Aceh.


Hikayat menyerukan agar rakyat Aceh melancarkan perang jihad melawan orang Belanda yang tidak beragama. Di bawah kekuasaan Belanda yang tidak beragama maka rakyat Aceh tidak dapat lagi menjalankan keyakinan mereka. Pembunuhan dan kematian akan terjadi di mana-mana. Keyakinan mereka, Islam, akan diancam oleh penjajah. Adat istiadat mereka juga akan dilarang. Belum lagi persoalan perilaku para serdadu Belanda yang tidak bermoral, pemerkosaan dan lain-lain.


Setiap orang Aceh, setiap pria dan wanita dan anak-anak dengan demikian harus berpartisipasi dalam perjuangan melawan penjajah. Perang melawan Belanda adalah perang seluruh rakyat. Imbalannya, surga. Jika tidak berpartisipasi maka hukumannya adalah api neraka. Satu hari bertempur melawan Belanda mendapat pahala jauh lebih besar daripada seribu hari naik haji di Mekah. Jihad adalah cara kematian yang terindah. Karena setiap orang ikut bertempur maka sulit untuk memisahkan para pejuang dengan yang bukan pejuang.


Tetapi ketika orang-orang Belanda setelah perang selama 30 atau 40 tahun menjadi semakin kuat dan tampaknya dekat dengan kemenangan, maka Aceh menyerahkan diri pada Belanda, namun dengan syarat bahwa orang-orang Belanda pertama-tama harus mengakui Islam sebagai agama mereka. Jika Aceh menyerahkan diri, tidak berarti sebagaimana yang kita pahami sebelumnya bahwa mereka juga rela dikuasai. Penyerahan diri itu hanya merupakan taktik untuk membenahi kekuatan. (bersambung)

Siapa Sultan Sulu yang sebenar?

1320042772694958899

Kecelaruan mengenai pewaris sebenar yang berhak ke atas takhta Kesultanan Sulu bermula dengan kemangkatan Sultan Jamalul Kiram II pada 1936, Sultan Sulu terakhir yang berdaulat tetapi malangnya tidak mewariskan sebarang zuriat. Sejak daripada tarikh tersebut, muncullah berpuluh-puluh individu sama ada dari Sabah mahupun rakyat Filipina yang mengaku sebagai pewaris dan berhak ke atas kekosongan takhta Kesultanan Sulu, terutamanya daripada keturunan keluarga Kiram. Individu yang membuat tuntutan ini termasuklah mereka yang sebenarnya langsung tiada kaitan dengan institusi Kesultanan Sulu ini (Sekadar menyamar). Sebenarnya selepas kemangkatan baginda, takhta sewajarnya dikembalikan semula kepada keluarga Pewaris Kedua iaitu Keluarga Maharajah Adinda. Justeru itu, mari kita lihat terlebih dahulu senarai ‘Sultan Sulu’ selepas kemangkatan Sultan Jamalul Kiram II, biarpun tidak lagi mempunyai kuasa dan tidak berdaulat, untuk memahami punca pertikaian sebelum meneliti senarai individu utama yang menyamar sebagai ‘Sultan Sulu’:




1) Sultan Mawallil Wasit (1936) : Beliau merupakan adik kepada Sultan Jamalul Kiram II. Empat hari selepas kemangkatan abangnya itu, beliau telah ditabalkan oleh Rumah Bichara (Kabinet atau Majlis Diraja Kesultanan Sulu) untuk menggantikan abangnya. Walaubagaimanapun, beliau hanya sempat menjadi ‘Sultan’ untuk tempoh 6 bulan sahaja sebelum meninggal dunia secara mengejut akibat diracun dan dikebumikan di Maimbung. Setahun kemudian, Presiden Filipina, Manuel L. Quezon telah menyatakan melalui Memorandum bertarikh 20 September 1937 bahawa Kerajaan Filipina tidak akan mengiktiraf mana-mana lagi pewaris daripada Sultan Jamalul Kiram II (Keluarga Pewaris Pertama).



13200428382030560779



2) Sultan Ombra Amilbangsa (1937-1950) : Beliau merupakan suami kepada Dayang-dayang Hajah Piandao. Dayang-dayang Hajah Piandao ini merupakan anak kepada Sultan Badaruddin dan anak saudara kepada Sultan Jamalul Kiram II. Selepas kematian Sultan Mawallil Wasit, Dayang-dayang Hajah Piandao yang ketika itu bertindak sebagai “Sandah” (pemangku pemerintah), telah mengarahkan rakyat Sulu supaya mengisytiharkan suaminya dari Tawi-tawi, Datu Ombra Amilbangsa, sebagai Sultan Sulu dengan gelaran Sultan Amirul Umara II pada Januari 1937. Datu Ombra ini juga pernah dilantik sebagai Gabenor Sulu. Selepas Perang Dunia ke-2, Datu Ombra Amilbangsa telah bertanding sebagai Ahli Kongres Filipina dan memenanginya (Tidakkah bodoh seorang ‘Sultan’ merendahkan martabatnya dengan menjadi sekadar Ahli Kongres di negara bukan Islam yang telah menjajah wilayahnya???).

13200429381100766373






3) Sultan Esmail Kiram I (1950-1974) : Beliau merupakan putera kepada Sultan Mawallil Wasit. Memandangkan Sultan Ombra Amilbangsa bukanlah waris langsung dari Kesultanan Sulu, maka Sultan Esmail Kiram I ini telah disepakati untuk dilantik sebagai Sultan Sulu yang seterusnya di Jolo pada tahun 1950. Pada tahun 1962, beliau telah menyerahkan wilayah Borneo Utara dan kekuasaan Kesultanan Sulu kepada Republik Filipina iaitu ketika era pemerintahan Presiden Diosdado Macapagal. (lihatlah sendiri perangai Sultan seorang ini. Lebih rela menyerahkan ‘wilayahnya’ kepada pemerintahan Kristian berbanding ditadbir oleh saudara seIslam di Malaysia). Beliau meninggal dunia di Jolo pada tahun 1974.

13200429141160075898



13200430171882380341

4) Sultan Muhammad Mahakuttah Kiram (1974-1980) : Beliau merupakan putera sulung melalui isteri kedua kepada Sultan Esmail Kiram I. Beliau dilantik sebagai Sultan Sulu selepas kematian Sultan Esmail Kiram I kerana Datu Pujungan, yang ketika itu merupakan Raja Muda (setaraf Putera Mahkota), melarikan diri ke Sabah akibat kekacauan yang berlaku di Sulu pada masa tersebut. Apa yang menariknya, beliau ini dilantik secara langsung oleh Kerajaan Filipina di Manila yang ketika itu dipimpin oleh Presiden Marcos. Beliau berdiam di Manila, tinggal di Hotel Aurelio di Mabini, dan menerima elaun serta ditanggung kewangannya oleh Presiden Marcos (Fikirkanlah sendiri!!!). Pada tahun 1980, selepas darurat ditamatkan, Raja Muda Punjungan kembali dari Sabah ke Jolo. Sultan Muhammad Mahakuttah Kiram yang ketika itu turut berada di Jolo bersetuju menyerahkan takhtanya kepada pakciknya, Raja Muda Punjungan sebagai Sultan Sulu dengan gelaran Sultan Punjungan Kiram.



13200430582041173216


) Sultan Aliuddin-II (1980-2007) : Nama sebenar beliau adalah Datu Aliuddin Haddis Pabila bin Datu Syeikh ibni Maharajah Adinda Sultan Muhammad Aranan Puyo, dan berasal dari Sabah. Ketika era ‘pemerintahan’ Sultan Muhammad Mahakuttah Kiram, telah berlaku satu peristiwa yang cukup penting. Para ahli keluarga pewaris Kedua mula memahami sejarah sebenar dan menyedari hak-hak mereka. Atas jemputan Pehin Dato’ Haji Awang Mohd. Jamil Al-Sufri, keluarga Pewaris Kedua yang diketuai oleh Datu Aliuddin Haddis Pabila telah meminta pihak Muzium Brunei untuk menjaga Pulau Janggi pada tahun 1978 (Bagi mengelakkan kepalsuan Pulau Janggi dibuat oleh pihak lain). Pulau Janggi yang diserahkan telah diperiksa dan disahkan ketulenannya oleh pihak Muzium Brunei. Pada masa tersebut, beliau telah disahkan sebagai “Pewaris Sultan Sulu yang sebenar” dan di dalam Surat Penerimaan Pulau Janggi yang dikeluarkan oleh pihak Muzium Brunei, beliau telah diisytiharkan sebagai “Sultan Aliuddin-II”.




1320043098699417061



Dengan pertukaran takhta bagi pewaris Keluarga Pertama oleh Sultan Muhammad Mahakuttah Kiram kepada Sultan Punjungan Kiram yang bukan daripada darah di Raja Kesultanan Sulu, maka sahlah permulaan takhta Kesultanan Sulu dikembalikan kepada keluarga Pewaris Kedua (Maharajah Adinda) melalui Sultan Aliuddin-II ini. Pada 17 Disember 2004, Majlis Diraja Sulu sekali lagi telah mengisytiharkan beliau sebagai “Sultan Sulu”, namun Majlis Pertabalan tidak dapat dilaksanakan kerana kekurangan sumber kewangan sehinggalah beliau wafat pada 30 Jun 2007.



6) Datu Ali Kuyung (2007-kini) : Pengerusi Majlis di Raja Sulu (Pemangku Sultan Sulu buat sementara waktu). Nama sebenar beliau ialah Datu Muhammidul Ali bin Datu Mahmun bin Datu Halun ibni Maharajah Adinda Sultan Muhammad Aranan Puyo. Merupakan anak saudara kepada Datu Aliuddin Haddis Pabila. Biarpun dari segi kekananan generasi, masih terdapat ramai waris lebih tua yang lebih layak, namun beliau merupakan pewaris yang paling layak untuk ditabal sebagai Sultan Sulu yang seterusnya jika ditinjau dari segi kekananan baginda kerana merupakan cicit lelaki sulung kepada isteri pertama Maharajah Adinda Sultan Muhammad Aranan Puyo. Beliaulah yang meneruskan legasi perjuangan Keluarga Pewaris Kedua Kesultanan Sulu pada masa kini. Tidak memakai gelaran ‘Sultan’ kerana telah disepakati tiada siapa pun yang berhak mendakwa diri sendiri sebagai ‘Sultan Sulu’ pada hari ini selagi kesemua waris yang berhak termasuklah yang telah menabalkan diri masing-masing sebagai Sultan Sulu tidak duduk semeja untuk berbincang dan menabalkan seorang sahaja yang benar-benar paling layak dan berhak untuk menjadi Sultan berdasarkan Tartib di Raja Sulu.



1320043169491377532



Sejarah telah tercipta apabila beliau telah berjaya menyatukan Keluarga Pewaris Pertama dengan Keluarga Pewaris Kedua iaitu melalui anakanda Sultan Muhammad Mahakutta Kiram, iaitu Raja Muda Muedzullail Kiram. Telah disepakati bahawa kedua-dua pewaris Kesultanan Sulu ini tidak akan membuat tuntutan terhadap Sabah, yang akan hanya menguntungkan mainan politik Filipina semata-mata. Kini, masa sahaja yang akan menentukan apakah pengakhiran kepada episod tuntutan tahkta Kesultanan Sulu ini. Namun apa yang pasti, jika beliau berjaya memerdekakan kembali Kesultanan Sulu Darul Jambangan (bukannya sibuk menuntut Sabah dan elaun wang pajakan sebagaimana sesetengah individu yang mendakwa diri sendiri sebagai ‘Sultan Sulu’), tiada keraguan lagi beliaulah yang akan ditabalkan secara rasmi kelak sebagai Sultan Sulu.




Kini kita lihat pula sekali lalu mengenai senarai Sultan Sulu yang terdiri daripada penyamar dan waris yang tidak berhak :



1) Sultan Rodinood Kiram : Dia ‘menyambung’ perjuangan ayahnya iaitu Sultan Julaspi Kiram, yang mendakwa sebagai satu-satunya zuriat tunggal kepada Sultan Jamalul Kiram II dan berhak ke atas takhta Sultan Sulu. Namun, berdasarkan kepada maklumat daripada pesaing-pesaing ‘Sultan Sulu’ yang lain di Filipina, Julaspi ini adalah anak kepada Hadjirul, salah seorang pengawal (bodyguard) kepada Sultan Jamalul Kiram II, yang telah jatuh cinta dengan isteri muda Sultan Sulu tersebut. Sultan Sulu tidak menjatuhkan hukuman bunuh sebaliknya memberi pengampunan tetapi mereka berdua dibuang ke Pangutaran. Dari hubungan Hadjirul dan isteri muda Sultan Sulu inilah lahirnya Julaspi, yang kemudiannya menuntut takhta Sultan Sulu. Selepas kematian Julaspi di Kampung Maharlika, Taguig, pada tahun 1998, anak sulungnya, Rodinood, meneruskan tuntutan terhadap takhta Kesultanan Sulu. Inilah sebenarnya individu yang sibuk menjual “pingat dan Darjah Kebesaran Sultan Sulu yang membawa gelaran Datuk” di negara kita!!!



13200432511343083295



2) Sultan Esmail Kiram II dan Sultan Jamalul Kiram III : Kedua-dua mereka ini adalah adik beradik dan anak kepada Sultan Punjungan Kiram. Dikatakan Punjungan ini merupakan anak kepada Sultan Mawallil Wasit. Realiti yang sebenarnya adalah nenek mereka dari Pulau Simunul, Tawi-Tawai, yang bernama Mora Napsa Laga, telah dirampas untuk dijadikan isteri oleh Sultan Mawallil Wasit dalam keadaan telah pun mengandungkan zuriat suaminya yang sebenar, seorang Imam bernama Amil Hamja! Justeru itu, Punjungan ini sebenarnya hanyalah anak tiri kepada Sultan Mawallil Wasit. Selepas kematian Sultan Punjungan Kiram pada tahun 1983, anak sulungnya iaitu Raja Muda Jamalul Kiram III telah ditabalkan oleh para penyokongnya sebagai Sultan Sulu. Walaubagaimanapun, kerana dia tinggal di Manila dan enggan berdiam di Jolo, bertentangan dengan adat Sulu, maka adiknya, Raja Muda Esmail Kiram II kemudian telah dilantik sebagai Sultan pada tahun 2001. Sultan Jamalul Kiram III ini pernah bertanding dalam pilihanraya negara Filipina. Sementara Sultan Esmail Kiram II inilah ‘Sultan Sulu’ yang pernah mengancam untuk melancarkan ‘Perang Jihad’ kepada Malaysia pada tahun 1993 dan 2001 jika Sabah tidak diserahkan kepadanya. Atau sebagai balasannya, bayar sahaja ganti rugi sebanyak USD 10 Bilion kepadanya. (Dapat baca niat sebenar mereka ini???)




13200433182121866451



13200433441322203535



3) Sultan Muhammad Fuad Abdulla Kiram : Dia ini tak lebih sekadar salah satu boneka atau lebih tepat lagi anjing suruhan yang digunakan oleh Pemerintah Filipina untuk menuntut Sabah dari Malaysia. Dia merupakan adik kepada Sultan Muhammad Mahakuttah Kiram. Jika benar takta Kesultanan Sulu masih mahu diwariskan kepada keluarga Pewaris Pertama (Kiram), maka sewajarnya takhta tersebut diserahkan kepada Raja Muda Muedzullail Kiram yang merupakan anak lelaki sulung kepada Sultan Muhammad Mahakuttah Kiram. Tambahan pula, masa yang terlalu lama diambil iaitu hanya pada tahun 2006 untuk mengangkat dirinya sendiri sebagai Sultan Sulu. Sangat suka mengutuk Malaysia yang dianggapnya bersikap kejam dan tidak berlaku adil kerana ‘merampas’ Sabah. Tetapi apa yang peliknya, kata-kata dia sangat lunak apabila menyentuh mengenai hal Kerajaan Filipina yang jelas telah menghapuskan kuasa Kesultanan Sulu yang ingin dipegangnya sendiri, malahan sanggup mempertahankan Filipina dan mencerca Malaysia yang lebih bertanggungjawab membela para rakyat Sulu yang datang ke Sabah. Kedangkalan dan kejahilan dia mengenai sejarah dan Tartib (Protokol) Kesultanan Sulu terserlah apabila tidak mengetahui dan menafikan kewujudan dan peranan Pewaris Kedua Kesultanan Sulu.

1320043402655579719

4) Sultan Syarif Ibrahim Ajibul Pulalun : Dia ini adalah contoh klasik kepada individu-individu yang langsung tiada kaitan tetapi nak juga menyibuk mendakwa sebagai Sultan Sulu. Dia telah menabalkan dirinya sebagai Sultan Sulu dan Borneo Utara pada 20 November 2005 di Grand Astoria Hotel, Mayor Jordan St. Zamboanga City, Filipina, dan menggunakan nama Sultan Syarif Ibrahim Ajibul Mohammad Pulalun Kabayan Manjanay Syarif Abu Bakar. Sebenarnya, datuk kepada dia ni hanyalah seorang Syarif yang pekerjaannya adalah menempa senjata seperti barung (parang) di daerah Parang, Sulu. Datuk dia sangat terkenal dan menurut penduduk tempatan, datuknya adalah orang “keramat” yang mudah mengenakan “tulah” kepada sesiapa yang bertindak menganiayai beliau. Namun begitu, datuknya ini bukanlah berketurunan Raja Sulu. Kebetulan sahaja nama datuknya ialah Syarif Pulalun, yang hampir sama dengan nama salah seorang Sultan Sulu, iaitu Sultan Muhamad Pulalun. Hanya disebabkan itu, dia telah mengambil kesempatan dengan mendakwa datuknya itu adalah Sultan Muhammad Pulalun, lalu mengangkat dirinya sendiri menjadi Sultan Sulu. Latarbelakangnya telah didedahkan sendiri oleh penduduk-penduduk di sekitar daerah Parang yang sangat mengenali semua anggota keluarganya termasuk datuknya itu. Akibatnya, kini tiada seorang pun penduduk daerah itu yang mengiktiraf beliau sebagai Sultan Sulu. Bagaimanapun, sebelum itu, dia telah berjaya menipu ramai pihak termasuklah Kerajaan Filipina sendiri dan memperdaya wakil kerabat di Raja British iaitu Sir Stanley Brandenburg.


13200434441915308508

Wallahualam…………
Pesaka Bangsa

Meja Marmer dari Kerajaan Kutai

13200226761197995007
Foto 1


Saya membantu warga saya menjualkan 1 (satu) buah meja terbuat dari Marmer dan kayu jati. Dulu di tahun 1970 benda ini beliau dapat langsung dari Raja Kutai Terakhir Aji Muhammad Parekesit, karena beliau sebagai imam di lingkungan kerajaan Kutai.

13200236231068968899Foto 2


Terima kasih kepada rekan-rekan yang telah berkenan membaca tulisan ini, meja ini sudah beberapa kali hampir terjadi transaksi jual-beli namun gagal, kata sang pemilik bukan jodohnya, bisa jadi benda ini jadi Rezeki saya itu berarti rezeki anda juga.

Selamat pagi semua …… assalamuallaikum warroh matullohi wabarakatuh ….

Saiful Yazan Samsan

Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Mendirikan Ka’bah

13200482042015884306




Allah subhanahu wata’ala telah memerintahkan Nabi Ibrahim ‘alaihi salam untuk membangun Baitul ‘Atiq, yaitu masjid yang diperuntukkan bagi manusia untuk mereka menyembah Allah subhanahu wa ta’ala.


Allah kemudian menunjukkan kepada Nabi Ibrahim, di mana hendaknya bangunan tersebut dibangun. Allah menunjuki Nabi Ibrahim lewat wahyu yang diturunkan kepadanya.

Para ulama salaf mengatakan bahwa di setiap tingkat langit terdapat sebuah rumah. Penduduk langit tersebut beribadah kepada Allah di rumah tersebut. Oleh karena itulah, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim ‘alaihi salam membuat bangunan seperti itu pula di muka bumi.


Bagaimanakah kisah pembangunan Ka’bah oleh Nabi Ibrahim yang dibantu oleh putra beliau Nabi Ismail ini? Kisahnya agak panjang. Kita mulai sekarang ya…


Dahulu, Nabi Ibrahim ‘alahi salam membawa istrinya Hajar dan putra beliau Ismail ke daerah Makkah. Pada saat itu, Hajar dalam keadaan menyusui putranya.



Nabi Ibrahim kemudian menempatkan Hajar dan Ismail ke sebuah tempat di samping pohon besar. Pada saat itu, di tempat tersebut tidaklah terdapat seorang pun dan tidak pula ada air. Nabi Ibrahim kemudian meninggalkan keduanya beserta geribah yang di dalamnya terdapat kurma, serta bejana yang berisi air.


Ketika Nabi Ibrahim hendak pergi, Hajar mengikuti beliau seraya bertanya, “Wahai Ibrahim, ke manakah engkau akan pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami padahal di lembah ini tidak terdapat seorang pun dan tidak ada makanan apa pun?”


Hajar mengucapkannya berkali-kali, namun Nabi Ibrahim tidak menghiraukannya. Hajar kemudian bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkan engkau berbuat ini?” Nabi Ibrahim kemudian menjawab, “Iya.” Hajar lalu berkata, “Dia tidak akan membiarkan kami.” Hajar kemudian kembali.



Di daerah Tsaniah, ketika sosok beliau hilang dari pandangan keluarga yang beliau tinggalkan, Nabi Ibrahim berdoa,


“Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabb Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”



Ketika persedian air mereka habis, Hajar pun mencari air untuk dia dan putranya. Dia pergi ke bukit Shafa, mencari-cari adakah orang di sana, namun dia tidak menemukan siapa pun di sana.




Hajar pun kemudian pergi ke Marwah dan mencari-cari orang pula di sana. Dia juga tidak mendapati seorang pun.



Hajar berulang-ulang pergi dari Shafa ke Marwah, sebaliknya dari Marwah ke Shafa sampai tujuh kali. Oleh karena itu, di dalam ibadah haji ada yang namanya Sai, yaitu berlari-lari kecil dari Shafa ke Marwa dan sebaliknya sampai tujuh kali.



Sampai ke Marwah, Hajar mendengar suara. Lalu dia berkata, “Diamlah”. Dia mendengar suara itu, lalu mencari sumber suara itu dan berkata, “Aku telah mendengarmu, apakah engkau dapat memberikan bantuan?”



Ternyata dia berada bersama malaikat di tempat di mana terdapat air zam-zam. Lalu, malaikat itu mengais-ngais tanah hingga akhirnya muncul air. Selanjutnya, ia pun menuruni air tersebut, mengisi bejananya dan kembali ke putranya Ismail, kemudian menyusuinya.



Malaikat lalu berkata kepada Hajar, “Janganlah engkau takut disia-siakan, karena di sini akan dibangun sebuah rumah oleh anak ini dan bapaknya. Dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan keluarganya”




Setelah beberapa waktu berlalu, serombongan suku Jurhum datang ke tempat tersebut dan tinggal di sekitar air zam-zam bersama Hajar dan Ismail. Ini semua mereka lakukan atas izin dari Hajar.



Nabi Ismail pun beranjak dewasa dan belajar Bahasa Arab dari Suku Jurhum tersebut. Beliau juga menikah dengan salah seorang wanita mereka. Diceritakan pula bahwa Hajar kemudian meninggal dunia.



Pada suatu saat, Nabi Ibrahim datang ingin menjenguk Nabi Ismail ‘alaihimassalam. Namun, beliau hanya menemui istri Nabi Ismail saja.



Nabi Ibrahim bertanya kepada wanita tersebut ke mana kiranya Nabi Ismail pergi. Istrinya menjawab, “Dia sedang mencari nafkah untuk kami.”



Nabi Ibrahim lalu bertanya tentang keadaan mereka. Istri Nabi Ismail menjawab, “Kami dalam kondisi yang jelek dan hidup dalam kesempitan dan kemiskinan.”



Mendengar jawaban tersebut, sebelum pulang Nabi Ibrahim berpesan kepada wanita itu untuk menyampaikan salam kepada Nabi Ismail dan berpesan agar Nabi Ismail mengganti pegangan pintunya.




Setelah Nabi Ismail kembali ke rumah, istrinya pun menceritakan peristiwa tadi dan menyampaikan pesan Nabi Ibrahim kepada suaminya.



Mendengar hal tersebut, Nabi Ismail pun berkata kepada istrinya, “Itu tadi adalah bapakku. Ia menyuruhku untuk menceraikanmu, maka kembalilah engkau kepada orang tuamu.”



Nabi Ismail pun menceraikan istrinya tadi sesuai dengan pesan Nabi Ibrahim dan kemudian menikah lagi dengan seorang wanita dari Bani Jurhum juga.



Setelah beberapa waktu berlalu, Nabi Ibrahim kemudian kembali mengunjungi Nabi Ismail. Namun, Nabi Ismail tidak ada di rumah. Nabi Ibrahim pun menemui istri Nabi Ismail yang baru.



Beliau bertanya dimana Nabi Ismail sekarang. Istrinya menjawab bahwa Nabi Ismail sedang mencari nafkah.



Nabi Ibrahim juga bertanya tentang keadaan mereka. Wanita itu menjawab bahwa keadaan mereka baik-baik saja dan berkecukupan, sambil kemudian memuji Allah azza wa jalla.




Nabi Ibrahim lalu bertanya tentang makanan serta minuman mereka. Wanita itu menjawab bahwa makanan mereka adalah daging, adapun minuman mereka adalah air. Maka Nabi Ibrahim mendoakan kedua hal ini, “Ya Allah berkatilah mereka pada daging dan air.”



Setelah itu, Nabi Ibrahim pun pergi dari rumah Nabi Ismail. Namun, sebelumnya beliau berpesan kepada wanita itu agar Nabi Ismail memperkokoh pegangan pintunya.



Ketika Nabi Ismail pulang, beliau bertanya kepada istrinya, “Adakah tadi orang yang bertamu?”

Istrinya menjawab, “Ada, seorang tua yang berpenampilan bagus.” Dia memuji Nabi Ibrahim.

“Ia bertanya kepadaku tentang dirimu, maka aku jelaskan keadaanmu kepadanya. Dia juga bertanya tentang kehidupan kita, dan aku jawab bahwa kehidupan kita baik-baik saja.”



Nabi Ismail kemudian bertanya, “Apakah dia memesankan sesuatu kepadamu?”




Istrinya kembali menjawab, “Ya. Ia menyampaikan salam kepadamu dan menyuruhku mengokohkan pegangan pintumu.”



Nabi Ismail berkata, “Itu adalah ayahku dan engkau adalah pegangan pintu tersebut. Beliau menyuruhku untuk tetap menikahimu (menjagamu).”



Waktu pun berlalu. Suatu saat ketika Nabi Ismail sedang meraut anak panah, Nabi Ibrahim pun datang. Nabi Ismail pun bangkit menyambutnya, dan mereka pun saling melepaskan rindu.



Selanjutnya, Nabi Ibrahim berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya Allah menyuruhku menjalankan perintah.”



Ismail menjawab, “Lakukanlah apa yang diperintahkan Rabbmu.”



“Apakah engkau akan membantuku?”, Tanya Nabi Ibrahim kembali.




“Aku pasti akan membantumu.” seru Ismail.



Nabi Ibrahim kemudian menunjuk ke tumpukan tanah yang lebih tinggi dari yang sekitarnya. Beliau berkata, “Sesungguhnya Allah menyuruhku membuat suatu rumah di sini.”



Pada saat itulah, keduanya kemudian meninggikan pondasi Baitullah. Ismail mulai mengangkut batu, sementara Ibrahim memasangnya.



Setelah bangunan tinggi, Ismail membawakan sebuah batu untuk menjadi pijakan bagi Nabi Ibrahim. Batu inilah yang akhirnya disebut sebagai maqam (tempat berdiri) Nabi Ibrahim.



Mereka pun terus bekerja sembari mengucapkan doa, “Wahai Rabb kami terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.




Ka’bah



Sampai akhirnya tuntaslah pembangunan baitullah itu. Ka’bah pun akhirnya berdiri di bumi Allah ‘azza wa jalla.(*)

Kisah-Kisah tentang Ka’bah, Penerbit Al-Ilmu)


Nana Sudiana