LINTASAN SEJARAH ISLAM (2):

BANGSA ARAB , SEMIT DAN AGAMA-AGAMA KUNA DI MESOPOTAMIA

Arab dan Semit


Bangsa Arab temasuk ke dalam rumpun bangsa Semit, begitu pula bahasanya. Jauh dari persangkaan banyak orang, mereka memiliki sejarah panjang alam peradaban dan kebudayaan dunia. Mereka juga pernah mendirikan kerajaan-kerajaan besar yang patut dibanggakan jauh sebelum munculnya agama Islam.



Menurut Ismail R. Faruqi, secara garis bahasa-bahasaaa Semit ini terbelah ke dalam dua kelompok besar.


Pertama, rumpun yang dipakai penduduk yang mendiami bagian utara Jazirah Arab terdiri dari : (1) Bahasa Akadia, Babylon dan Assyria yang digunakan di bagian timur Jazirah Arab Utara, yaitu di Iraq sekarang ini; (2) Bahasa Aramaik, Syria, Madain, Nabatea, Samaritan, Yahudi dan Palmyra di wilayah paling utara; (3) Bahasa Fuenisia, Suryani Ibrani dan Kanaan di bagian barat Jazirah Arab Utara.


Kedua, rumpun yang digunakan di separuh bagian selatan: (1) Bahasa Arab dengan berbagai logatnya; (2) Bahasa Saba’ atau Himyar dan Habsyah. Bahasa Himyar pecah ke dalam dialek-dialek Minaea, Mahri dan Hakih; bahasa Habsyah terpecah ke dalam logat-logat Tigre, Amharik dan Harari.


Orang Semit telah lama memiliki kerajaan, dan dapat dibagi dalam beberapa zaman. Kerajaan Semit I ialah Akadia Lama (2800—2360 SM) dan Akadia Baru di Mesopotamia (2360-2112 SM). Kerajaan Semit II ialah Assyria. Kerajaan ini menguasai wilayah Mesopotamia di sekitar aliran Sungai Tigris. Kerajaan Assyria diperintah oleh sukubangsa yang berbeda-beda:



(1) Pemerintahan Orang Amuru (abad ke-20-14 SM);


(2) Pemerintahan Orang Kanaan (abad ke-20 SM);



(3) Pemerintahan Orang Aramea (abad ke-13 SM);


(4) Pemerintahan bangsa Assyria (abad ke-14 – 7 SM);


(5) Pemerintahan bangsa Chaldea (626-539 SM). Di bawah pemerintahan


Chaldea, orang Semit menaklukkan Mesir dan Hilal Subur;


(6) Pemerintahan orang Ibrani tahun 19 sampai 1 SM. Orang Ibrani


berasal dari bangsa Amuru.




Agama Mesopotamia.



Orang-orang Semit di Mesopotamia dan Assyria memiliki sistem kepercayaan polytheis. Intipati sistem kepercayaan mereka dapat diringkas sebagai berikut:


Pertama. Mereka memandang bahwa wujud dan kenyataan ada dua: Yang satu, bersifat keruhanian, suci, mutlak, kekal dan memerintah; yang kedua, yang bersifat kebendaan, kemanusiaan, senantiasa berubah dan takluk pada undang-undang langit.


Kedua. Kekuasaan ilahi penting bagi manusia karena merupakan sesuatu yang patut diamalkan.


Ketiga. Manusia dicipta dengan tujuan tertentu dan tujuan itu bukan untuk diri manusia semata-mata, tetapi juga untuk tujuan ilahiyah. Karena itu manusia wajib menyembah Tuhan. Penyembahan perlu untuk membektuikan ketaat manusia kepada penciptanya dan agar perintah Tuhan terlaksana di muka bumi.


Keempat. Karena kepatuhan kepada Tuhan itu wajib dan perintah Tuhan itu patut dilaksanakan, maka manusia dibebani tanggungjawab. Mereka yang bertanggungkawab akan memperoleh pahala berupa kesejahteraan dan kebahagiaan, dan apabila ingkar akan akan mengalami siksaan. Prinsip ini memungkinkan manusia mampu memikirkan dan memahami bahasa wahyu.


Kelima. Rancangan Tuhan mencakup kehidupan alam semesta dan kehidupan manusia. Kehidupan merupakan kesatuan organik, saling berkaitan bagian yang satu dengan yang lain.



Faham dualis dalam ontologinya itu membuat orang Mesopotamia memelihara sifat transenden ilahi dan tidak memberi peluang sifat immanen. Ini merupakan kebalikan dari pandangan Mesir Kuno, yang memandang adanya persatuan antara dewa (yang transenden, tanzih) dan segala sesuatu yang ada di dunia (yang immanen, tasybih). Rumput du bumi, kehijauan dan kesegaraannya merupakan penjelmaan Osiris. Orang Mesopotamia menolak pandangan tersebut.


Dewa Tertinggi Mesopotamia ialah Amu, Dewa Langit. Amu dilahirkan oleh Anghar dan Kishar, dan Kishar adalah putra Apsu dan Tihamat, yang merupakan dewa air tawar dan air masin. Keturunannya memiliki hirarki tinggi seperti langit yang mewakili manifestasinya. Dewa lain yang disembah ialah Elil, dewa angin ribut – simbol kekuasaan yang menghancurkan keingkaran dan memiliki kekuatan memaksa agar manusia tunduk pada undang-undang langit. Dewa ketiga ialah Ki dan Ea atau Enki. Ki ialah Dewa Bumi dan Enki, ibu semua bayi yang baru dilahirkan serta penggerak semua makluk hidup. Amu punya anak, Mumumm dewa awan dan embun. Tetapi dari sekalian dewa itu yang paling penting ialah Marduk. Marduk ialah perhimpunan semua kekuatan dan kekuasaan dewa-dewa berada di bawah kendalinya. Marduk itulah yang memerintah dewa-dewa. Penjelasan tentang kekuasaan Marduk ini digunakan untuk menerangkan masalah kemasyarakatan dan negara.


Agama Mesopotamia tenggelam setelah Cyrus, maharaja Persia, menaklukkan Mesopotamia pada abad ke-3 M. Di wilayah lantas berkembang agama Zoroaster.


Agama Orang Amuru. Secara hakiki agama orang Amuru atau Amorit, yaitu suku Semit yang menaklukkan Mesopotamia pada abad ke-20 s/d 12 SM, sama dengan Yudaisme, agama orang-orang Yahudi. Konsep kepercayaan agama mereka bersifat monotheistik. Dalam konsep orang Amuru kerajaan Tuhan meliputi empat penjuru alam. Menurut mereka jika benar bahwa Marduk itu Tuhan, maka tuhan-tuhan yang lain tidak diperlukan lagi. Dewa-dewa orang Mesopotamia dianggap sebagai khayalan.


Dengan demikian sejak munculnya orang Amuru, bangsa Semit mulai mengenal konsep monotheisme. Asas-asas ajaran agama yang dianut orang Amuru ini sejalan dengan inti ajaran agama Ibrani lama, yaitu monotheisme yang diajarkan oleh para rabbi Yahudi di Timur Dekat. Dalam agama Ibrani Lama, kepercayaan terhadap Tuhan ang Satu atau Esa telah ditegaskan sedemikian rupa. Mereka menyebut Tuhan sebagai Bapa, sehingga muncul istilah Tuhan bapa-bapa kami, Tuhannya Ibrahim. Sedangkan diri mereka disebut anak-anak Tuhan. Untuk Tuhan digunakan istilah Elohim (sama dengan Ilahi dalam bahasa Arab). Sedangkan dalam kitab Taurat Tuhan juga disebut Yahwe, yang secara etimologi berkaitan dengan kata-kata Ya Huwa (Dia) dalam bahasa Arab. Sedangkan Bani Israil disebut Bani Elohim.


Orang Yahudi mengalami eksodus pada zaman Nabi Musa a.s., yaitu beramai-ramai meningggalkan Mesir untuk menjauhi penindasan Fir’aun. Pada zaman Nabi Daud mendirikan kerajaan di Palestina. Ketika itu penduduk Palestina merupakan campuran dari berbagai sukubangsa Semit seperti Hitti, Perint, Jebusit, Moahit, Philistin, Phoenisia, Suryani dan Canaan. Pada zaman Nabi Daud inilah perumusan yang mantap dari Yudaisme atau agama Ibrani bermula. Mereka bisa mengembangkan kebudayaan dan peradaban karena memiliki negara.



Tetapi malang, akibat penaklukan Nebukadnesar dari Babylon (Iraq) pada abad ke-6 dan kemudian Cyrus dari Persia (Iran) pada abad ke-5 S.M., orang Yahudi mengalami holocaust. Mereka menjadi orang buangan, dan hidup terserak-serak di banyak negeri. Setelah penaklukan Persia, tak lama kemudian Rumawi Timur menaklukkan Palestina dan Syria. Rumawi menduduki wilayah itu hingga awal abad ke-7 M. Tak lama kemudian pasukan Arab Muslim merebut wilayah itu dari tangan Romawi. Pada masa pemerintahan Bani Umayyah (661-749) wilayah ini mengalami proses Arabisasi dan Islamisasi yang dahsyat.


Pengaruh Persia dan Ibrani. Setelah Cyrus menaklukkan Mesopotamia, pengaruh agama dan kebudayaan Persia nulai tertanam di kalangan orang-orang Semit. Begitu pula kebudayaan Semit mulai mempengaruhi kebudayaan Persia. Tulisan Aramaik dijadikan dasar aksara Pahlewi atau Persia Kuno. Melalui Mesopotamia inilah kebudayaan Persia mempengaruhi orang Arab pada khususnya, Semit pada umumnya. Tetapi di bidang keagamaan pengaruh Persia sangat kecil. Bangsa-bangsa Arab misalnya menolak konsep rij’at (mahdiisme atau mesiah), tanasukh (perpindahan ruh seseorang kepada keturunannya) dan hulul (inkarnasi). Begitu pula konsep eskatologi Zoroaster sama sekali ditolak oleh orang Arab. Hanya sebagian kecil orang Semit terpengaruh konsep keagamaan Persia, seperti kelak terlihat pada sekte-sekte tertentu Islam dan Kristen di Mesir, Libanon, Syria, Iran, Turki, Iraq dan lain-lain.


Agama orang Ibrani juga tidak terlalu menarik perhatian orang Arab. Pada zaman holocaust memang terdapat banyak pendeta Yahudi mengembara dari tempat satu ke tempat lain di gurun pasir untuk menyebarkan agama. Orang-orang Ibrani juga menduduki wilayah barat daya Jazirah Arab dan aktif dalam perniagaan. Tetapi pengaruh langsung mereka tidak terasa. Di Yaman juga terdapat orang-orang Yahudi yang berhasil mengajak raja di situ memeluk Yudaisme. Di sini mereka memperkuat diri menghadapi ancaman raja Habsyah (Abisania) yang ingin menyebarkan agama Kristen di wilayah itu. Pada tahun 570 M, raja Habsyah bernama Abrahah memerintahkan pasukannya menyerang Yaman dengan pasukan gajahnya. Yaman berhasil diduduki dan agama Kristen mulai tersebar di sinni. Pasukan Abrahah eneruskan perjuangan menyerang Mekkah, tetapi gagal menduduki Ka’bah karena serangan burung ababil yang ganas terhadap pasukannya.


Pertanyaannya, mengapa orang Ibrani tidak dapat merebut hati orang Arab? Karena orang Ibrani terlalu materialistis dan etnosentris. Faktor lainnya ialah karena mereka sering mengingkari ajaran kitab suci mereka sendiri, Taurat. Orang Arab melihat mereka ini menghalalkan segala cara. Malahan di Babylon, orang-orang Ibrani ini sudah mulai dipengaruhi konsep keagamaan Persia. Konsep keagamaan Persia yang berpengaruh terutama ialah rij’at dan hulul.




Agama Kristen. Orang Kristen cukup banyak terdapat di negeri Arab menjelang datangnya agama Islam. Tetapi pengaruh agama ini kecil. Ada banyak faktor bisa menjelaskannya. Byzantium sebagai kemaharajaan Kristen tidak berminat menyebarkan agama mereka di Jazirah Arab. Mereka memerlukan orang-orang Arab hanya sebagai perantara di bidang perdagangan. Hanya beberapa suku Arab di bagian utara jazirah yang memeluk agama Kristen. Orang Kristen mulai banyak terdapat di bagian tengah jazirah Arab setelah terjadi perpindahan besar-besaran penganut madzab Nestoria, Monofisit dan lain-lain oleh kaisar Justianus I dari Byzantium. Tidak sedikit di antara mereka adalah para pendeta.


Di Edessa dan Jundishapur mereka mendirikan sekolah-sekolah agama, di samping lembaga penelitian ilmiah. Tetapi di jantung jazirah Arab kegiatan mereka tenggelam oleh hiruk pikuk kehidupan suku-suku baduwi Arab yang kerap bersengketa. Namun di sini mereka berhasil mendirikan beberapa sekolah agama, yang mengajarkan membaca dan menulis, khususnya kitab suci Injil. Di antara murid-muridnya terdapat orang-orang dari suku Quraysh, tetapi mereka pada umumnya tidak tertarik untuk memeluk agama Kristen. Mereka masuk sekolah Kristen untuk belajar membaca dan menulis. Juru tulis Nabi pada maa awal kerasulannya adalah orang-orang yang dahulunya belajar di sekolah Kristen ini. Jumlah mereka tidak lebih dari 10 orang.


Pada waktu Nabi Muhammad s.a.w hijrah ke Madinah, sekolah-sekolah Islam didirikan meniru model sekolah-sekolah Kristen ini. Gedung sekolah berdampingan dengan rumah ibadah, dan pendidikan yang diutamakan ialah membaca dan menulis. Selain mempelajari kitab suci, yang diajarkan adalah puisi Arab lama.



(BERSAMBUNG)






Hamurabi, raja Babylonia abad ke-10 M. Peletak undang-undang tertulis pertama di dunia.

Prof. Dr. Abdul Hadi W. M.

Misteri UFO di North Carolina Terpecahkan?

Headline
Sebanyak dua bola cahaya mengambang di langit di North Carolina (NC), Amerika Serikat (AS). Penampakan ini terjadi pada 50 tahun lalu. Benda apa itu sebenarnya?

Cahaya misterius yang sudah ada selama seabad yang dijuluki Brown Mountain Lights (BML) ini membingungkan para warga dan turis di Negara bagian AS itu.

Banyak yang menduga bola cahaya itu adalah pantulan lampu mobil atau api, dan ada pula yang menyebutkan itu adalah fenomena paranormal atau sesuatu yang tak bisa dijelaskan sains.

BML berhasil menarik perhatian banyak orang yang bekerja di dunia sains sejak 1920-an yang USGS AS sempat mengeluarkan kesimpulannya mengenai cahaya misterius itu dengan menyatakan bahwa itu merupakan pantulan lampu mobil, kereta, dan api.

Di sisi lain seperti dilaporkan HuffPost, profesor fisika dan astronomi Daniel Caton dari Appalachian State University mengaku itu bisa saja menjadi penjelasannya. Namun ia yakin ada hal lain dari peristiwa itu. Caton berharap bisa memecahkan misteri ini dalam waktu dekat.
Huft Post

Penyebab Hilangnya Suku Maya dari Bumi?

Headline
Di 2012, suku ini berhasil membuat banyak warga dunia khawatir akan ramalan kiamatnya. Kini para peneliti mengaku menemukan penyebab hilangnya suku ini. Ingin tahu?

Suku Maya klasik yang diketahui berada di selatan Meksiko dan Guatemala ini diketahui menghilang akibat kekeringan yang meruntuhkan peradabannya.

Tak hanya itu, peneliti gabungan dari University of Southampton Inggris dan Yucatan Center for Scientific Research di selatan Meksiko menyebutkan kekurangan air juga menjadi penyebabnya.

Hasil analisa mereka menunjukkan, tingkat hujan dan penguapan pada 800-950 di saat peradaban Maya turun tajam cukup membuat persediaan air sangat kurang.

“Penurunan 25-40% hujan tahunan cukup besar untuk menguras persediaan air mereka, “ kata Profesor Eelco Rohling dari Southampton University.

Di sisi lain, para arkeologi telah lama berpendapat bahwa runtuhnya peradaban Maya kerena penyakit dan penggundulan hutan seperti. Demikian dikutip UPI.

UPI

Bangkit dan Runtuhnya Kesultanan Aceh

Anthony Reid, seorang pakar Asia Tenggara kelahiran Selandia Baru, banyak mengupas tentang kejayaan dan kemakmuran Kesultanan Aceh. Salah satu bukunya yang menarik adalah “Asal Mula Konflik Aceh : Dari Perebutan Pantai Timur Sumatra hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19″. Dalam buku tersebut Reid bercerita tentang kegemilangan Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda, yang mampu menguasai separuh garis pantai timur dan barat Sumatra, hingga menjadi kerajaan taklukan Belanda di akhir abad ke-19. Dalam buku “An Indonesian Frontier: Acehnese and Other Histories of Sumatra”, lebih jauh Reid mengungkapkan tentang kemegahan dan kekayaan yang diperoleh raja-raja Aceh berkat kegigihan mereka dalam berdagang. Dari buku-buku karangan Reid, ada beberapa poin yang bisa ditangkap terkait dengan kegemilangan Aceh di masa lalu : Islam, Penguasaan Selat Malaka, dan Aliansi Politik dengan Turki Utsmani. Tiga pokok inilah yang membuat Aceh bisa bertahan lama, dan mengalami masa-masa paling gemilang yang mungkin tidak pernah dialami oleh penduduk Nusantara lainnya.

Kesultanan Aceh terletak di ujung utara Pulau Sumatra. Pintu masuk Selat Malaka dan di bibir pantai Lautan Hindia. Diawali oleh kerajaan kota Samudera dan Pasai, Aceh berkembang menjadi daerah kosmopolitan. Orang-orang dari berbagai bangsa menginjakkan kakinya di sudut pulau Sumatra itu, sebelum meneruskan perjalanannya ke pulau rempah-rempah atau ke negeri di atas angin. Mereka datang ke Aceh, bukan hanya untuk membongkar sauh atau sekedar mengisi perbekalan, namun juga mengembangkan peradaban. Para musafir Arab dan Gujarat, boleh jadi merupakan pihak terpenting dalam membangun dasar-dasar peradaban Aceh.

Islam, yang dibawa oleh pedagang Arab, Gujarat, dan Persia, menjadi perekat sekaligus sumber kejayaan orang-orang Aceh. Dari ajaran Islam, undang-undang disusun dan ditegakkan. Kuatnya Aceh dalam penerapan hukum Islam, seperti : ekonomi bagi hasil, hukuman rajam dan cambuk, menjadikan negeri ini aman sentosa. Situasi kerajaan yang kondusif, melahirkan pula para seniman, sastrawan, dan para pedagang yang kaya raya. Meskipun wirausahawan kebanyakan datang dari keluarga raja, namun diterapkannya sistem sosialis Islam dalam perekonomian Aceh, memunculkan masyarakat egaliter yang memiliki daya beli cukup kuat. Tak adanya ketimpangan ekonomi yang terjadi di tengah masyarakat, menjadi salah satu sebab bertahannya Aceh dalam kurun waktu yang cukup lama.

Penguasaan jalur perdagangan tersibuk pada masa itu : Selat Malaka, menjadi faktor berikutnya yang mengantarkan Aceh kepada zaman gilang-gemilang. Jatuhnya kota Malaka di tahun 1511 oleh serangan Portugis, menjadi titik balik bagi kebangkitan Aceh. Estafet peradaban Melayu yang sebelumnya dibina oleh Kerajaan Malaka, diambil alih Kesultanan Aceh. Para saudagar muslim yang biasanya berkumpul di Malaka, perlahan-lahan beringsut meninggalkan kota tersebut untuk menetap dan berdagang di Kutaraja. Selain perdagangan, ilmu pengetahuan dan sastra juga berkembang cukup pesat. Beberapa cendekiawan Aceh seperti Hamzah Fansuri, Abdul Rauf Singkel, Syamsuddin al-Sumatrani, dan Nuruddin Al-Raniri, banyak melahirkan karya besar yang kemudian menjadi rujukan para sastrawan dan ilmuwan Melayu.

Pada abad ke-16, hanya Portugis-lah pesaing serius Kesultanan Aceh di Selat Malaka. Meski kekuatan Aceh telah bersatupadu dengan kerajaan-kerajaan kecil di pantai timur Sumatra, namun Portugis tetap tak terkalahkan. Sampai tahun 1641, Portugis terus menguasai Malaka hingga akhirnya takluk di bawah kekuatan VOC. 130 tahun persaingan Aceh versus Portugis di Selat Malaka, banyak memberikan keuntungan bagi perdagangan Aceh. Kutaraja, ibukota sekaligus pelabuhan terpenting kerajaan, segera menjelma menjadi kota paling sibuk di Kepulauan Nusantara. Pengusaha muslim dari berbagai negara yang menghindari kekuatan Portugis di Malaka, banyak bertransaksi disini dan kemudian membangun pemukiman mereka. Pada masa itu, daerah Aceh Besar memiliki penduduk hingga 300.000 jiwa, dan merupakan salah satu wilayah terpadat di Indonesia.

Kekayaan ibukota-pelabuhan itu, memungkinkan para penguasa selanjutnya untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil yang bergantung kepada ekonomi pertanian. Didukung oleh angkatan laut yang mumpuni, Aceh menyerang kerajaan-kerajaan pantai timur Sumatra. Daya, Aru, Asahan, Deli, dan Panai, dalam waktu relatif singkat berhasil ditaklukkan. Politik ekspansi Aceh di pantai timur, tertahan oleh pasukan Minangkabau yang menyokong Kesultanan Siak. Persaingan tajam antara Aceh dan Minangkabau, adalah rivalitas klasik sepanjang tiga abad (abad ke-16 hingga ke-18) sejarah dunia Melayu. Mereka tak hanya bersaing dalam perebutan hegemoni Pulau Sumatra, namun juga hingga ke Semenanjung Malaysia. Di Semenanjung, Aceh berhasil menancapkan kekuasaannya di Kedah, Pahang, dan Johor. Sedangkan di pantai barat, pelabuhan-pelabuhan penting imperium Minangkabau : Barus, Natal, Tiku, Pariaman, dan Padang, juga berhasil dikuasainya. Penguasaan Aceh atas sebagian wilayah Sumatra dan Semenanjung, memungkinkan mereka untuk memonopoli perdagangan lada yang menjadi komoditi penting di Eropa dan Timur Tengah. Keuntungan besar memonopoli, membuat negeri serambi Mekkah itu semakin kaya raya.

Pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah al-Qahhar (1537 - 1571) dan kemudian Sultan Iskandar Muda (1607 - 1636), Aceh merupakan negara militer terkuat di Nusantara. Kekuatan militernya terutama berkat dukungan Imperium Turki Utsmani, yang pada masa itu menjadi adidaya dunia. Dengan perlengkapan senjata serta kapal-kapal perang modern, Aceh beberapa kali mengancam kekuatan Portugis di Selat Malaka. Meski penyerangan pada tahun 1547 dinilai gagal, namun peperangan di tahun 1562 memberikan kemenangan untuk Aceh. Pada tahun 1586, sekali lagi Aceh menyerang Portugis di Malaka. Kali ini Aceh menurunkan armada yang terdiri dari 500 buah kapal perang serta 60.000 tentara laut. Namun penyerangan ini kembali dapat dipatahkan oleh aliansi Portugis-Johor. Pada masa pemerintahan Iskandar Muda, Aceh banyak merekrut legiun-legiun asing. Angkatan perangnya ketika itu terdiri dari serdadu asal Turki, Malabar, Luzon, dan Ethiopia. Didukung oleh kekuatan tempur terbaik, pada permulaan abad ke-17 Aceh berhasil menguasai Semenanjung dan meminimalisir peran Portugis di Selat Malaka.

Kemunduran Aceh

Meski Iskandar Muda mampu memperluas teritori kerajaan, namun ia tidak sanggup mengendalikan pertanian dan orang-orang kaya di sekitar ibu kota. Semakin padatnya penduduk Aceh, maka diperlukan lahan pertanian yang makin besar untuk mencukupi pangan mereka. Invasi Iskandar Muda ke tanah Batak yang subur, tak cukup untuk memenuhi kebutuhan rakyat Aceh yang terus meningkat. Dennys Lombard melukiskan bahwa kemunduran Aceh pada abad ke-17 disebabkan oleh keberhasilannya yang terdahulu. Dimana daerah perkotaan-pelabuhan telah berkembang sedemikian rupa melampaui kemampuannya untuk menghidupi masyarakatnya.

Rongrongan dari raja Pagaruyung atas kota-pelabuhan di pesisir barat, juga menjadi pemicu rontoknya pamor Kesultanan Aceh. Tiku, Pariaman, dan Padang yang selama ini menjadi basis perdagangan lada yang cukup menguntungkan, satu per satu mulai melepaskan diri. Kehadiran Belanda dan kemudian Inggris di Selat Malaka, ikut mengganggu kedudukan Aceh di perairan tersebut. Dua kekuatan baru Eropa ini, bahkan memiliki jaringan dagang dan militer yang lebih solid dibandingkan Portugis pesaing mereka terdahulu.

Setelah mangkatnya Sultan Iskandar Tsani (1636 - 1641), Aceh masuk ke dalam era kepemimpinan sultanah. Diawali dari Ratu Safiatuddin Tajul Alam — janda Iskandar Tsani yang juga merupakan putri Iskandar Muda — hingga Ratu Zainatuddin Kamalat Syah, tanah rencong memasuki zaman kegoyahan. Setelah itu, Aceh diperintah oleh sebelas orang sultan yang tak memiliki arti. Tiga orang keturunan Arab (1699 - 1726), dua orang Melayu (1726), dan enam orang berkebangsaan Bugis (1727 - 1838). Pada masa kepemimpinan mereka, wilayah kekuasaan yang begitu luas mulai tak terkendali. Negeri-negeri tetangga, terutama Johor dan Minangkabau, menggerogoti Aceh dari segala penjuru. Hingga akhir abad ke-18, daerah kekuasaan Aceh tidak melebihi Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam dewasa ini. Bahkan beberapa wilayah Aceh di Meulaboh dan Tapaktuan, masuk ke dalam koloni dagang Minangkabau.

Mundurnya angkatan perang Aceh juga disebabkan oleh pudarnya dominasi Turki di Lautan Tengah. Negara-negara Barat macam Inggris dan Belanda, sudah tak takut lagi dengan pengaruh militer Turki Utsmani di Aceh. Bahkan mereka telah berembuk melalui Traktat London (1824) dan Traktat Sumatra (1871), untuk menghabisi Kesultanan Aceh. Dr. Christiaan Snouck Hurgronje, seorang ahli Islam berkebangsaan Belanda, menjadi arsitek kekalahan Aceh dalam perang yang penuh kebrutalan. Pada tahun 1904, secara de facto dan de jure Aceh takluk dan menjadi bagian Hindia-Belanda.

Pada masa kemerdekaan Indonesia, tak banyak yang bisa dilakukan rakyat Aceh untuk mengembalikan marwah dan posisi mereka. Malah yang didapat adalah kekecewaaan demi kekecewaan yang pada gilirannya melahirkan pemberontakan yang banyak menyengsarakan rakyat. Tak hanya itu, pemberontakan ini juga berakibat tereliminasinya kedudukan Aceh dalam kursi elit republik. Dimana sedikit sekali menteri-menteri dan pimpinan partai politik yang datang dari kalangan Aceh. Kini tak ada lagi kebanggaan yang tersisa. Setelah pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka yang kemudian disusul oleh bencana tsunami, Aceh menjadi salah satu negeri termiskin di Indonesia. Namun ada secercah harapan yang muncul, dari banyaknya mahasiswa Aceh yang duduk di berbagai universitas terkemuka tanah air. Mereka tidak hanya pintar dalam menyerap ilmu pengetahuan yang diajarkan, namun juga aktif terlibat dalam berbagai kegiatan sosial-politik. Diharapkan ! mereka inilah nantinya yang akan menjadi tunas-tunas baru bagi kebangkitan bangsa Aceh.

afandri adya

Napoleon Sempat Belajar Alquran

Napoleon Sempat Belajar Alquran
Makam Napoleon Bonaparte di Les Invalides (ilustrasi).

Napoleon Bonaparte memang sang penakluk, sebelum ia dikalahkan secara menyakitkan oleh Inggris. Tak hanya Eropa, namun di Afrika pun jejak Napoleon terlihat.

Saat Napoleon ingin menaklukkan Mesir (sebelumnya ia berhasil merebut Malta), Napoleon bercita-cita ingin melakukan “pencerahan”. Sebagai penguasa de facto, ia pun mengumpulkan para tokoh lokal di masjid. Laman Napoleon.org menyebutkan pergolakan sempat terjadi pada masa awal penjajahan Napoleon, tepatnya di Kairo pada 21-22 Oktober 1798.



Napoleon berusaha merebut hati para syekh untuk mendukung kekuasaannya di tanah Mesir. Laman napoleon.org juga menyebutkan, kedekatan sang kaisar dengan Islam ternyata terdokumentasikan dengan baik. Ia mengaku mengagumi Nabi Muhammad saw. Tak hanya itu, Napoleon konon mempelajari sungguh-sungguh sejumlah surat dalam Alquran.


Namun, hal sama juga dilakukan Napoleon terhadap penganut Koptik dan Kristen Mesir. Konon, kedekatannya dengan Kristen adalah untuk alasan pragmatis yaitu meredam amuk massa. Disebutkan di laman tersebut, “ketidakpercayaannya pada konsep Trinitas menyebabkan ia mengadopsi monotheisme, yang tentu saja prinsip ini tidak jauh dari ajran Islam”.


Apakah Napoleon pemeluk Islam? Ini masih kontroversi, apalagi jika kita tidak membaca langsung beberapa sumber literatur seperti buku Satanic Voices - Ancient and Modern karya David Musa Pidcock atau Bonaparte and Islam atau versi Prancisnya, Bonaparte et Islam, tulisan Christian Cherfils.


Dalam laman tanya-jawab komunitas yahoo.com, seorang penanya dengan nama maya Green Bird mengutip ucapan Napoleon, “ Musa telah mengungkap keberadaan Tuhan kepada bangsanya. Yesus Kristus kepada dunia Romawi, dan Muhammad kepada benua kuno” (Bonaparte et Islam halaman 105).



Berikutnya Greenbird mengutip halaman 125, “Semoga saja waktunya tepat ketika saya mampu menyatukan semua kebajikan dan mendidik bangsa di seluruh negeri serta mendirikan rezim bersama berdasarkan prinsip dalam Alquran, satu-satunya yang benar dan bisa menuntun manusia kepada kebahagiaan”.


Konon para ahli berdebat mengenai isu agama yang dianut sang kaisar. Ia menunjukkan toleransi sedemikian besar terhadap Muslim selama berupaya menaklukkan Mesir. Namun, Jenderal Dupuy yang mendampingi Napoleon, mengaku -sesaat setelah wafatnya Paus Pius VI- bahwa semua itu dilakukan Napoleon demi kepentingan politik.


“Kami mengelabui orang Mesir itu dengan berpura-pura berminat terhadap agama mereka. Baik Bonaparte atau kami tak ada yang percaya pada agama ini (Islam) ketimbang agama yang dibawa Pius yang sudah wafat ini,” tulis Wikipedia.com yang mengutip tulisan Napoleon I halaman 94, karya Jacques Bainville. Jadi? Wallahu a’lam bissawab…



Redaktur: Yeyen Rostiyani

Republika