Mengejar Bayangan Siti Hajar

Adalah benar Siti Hajar, Ibunda Nabi Ismail, tidak disinggung kisah hidupnya dalam Alquran, tidak seperti Yukabid, Ibunda Musa, yang dinukilkan dalam Alquran sebagai berikut: “Dan Kami ilhamkan kepada Ibu Musa. Susukanlah dia dan jika kamu khawatir terhadapnya, maka hanyutkan dia ke Sungai (Nil)... [QS al-qashash: 7].” Bahkan cara untuk menghanyutkan Musa pun dirinci: “Letakkanlah anakmu di dalam peti, kemudian hanyutkan ke Sungai Nil, maka pasti air sungai itu membawanya ke tepi, supaya dipungut oleh musuh-Ku dan musuhnya... [QS Taha:39].” Dan janji bahwa, “Kami akan mengembalikannya kepadamu (QS al-qashash:7)”, dibuktikan Allah dengan cara: “Ketika saudara perempuanmu pergi mencarimu lalu berkata kepada orang-orang yang memungutmu: Mahukah, aku tunjukkan kamu kepada orang yang boleh memeliharanya? Maka dengan jalan itu Kami mengembalikanmu kepada ibumu supaya tenang hatinya dan supaya ia tidak berdukacita karena bercerai denganmu (QS Taha:40).”

Namun demikian, sosok Siti Hajar merupakan pengecualian dari semua representasi perempuan yang datang dari kaumnya; pengecualian dari semua teori sosial, pendidikan, dan futurologi yang kita ketahui. Betapa tidak? Setelah menikah, suaminya, Nabi Ibrahim, meninggalkan beliau seorang diri dalam keadaan mengandung dan menitipkan: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tak mempunyai tanaman-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah rezeki mereka dari buah-buahan dan mudah-mudahan mereka bersyukur (QS Ibrahim:37).”

Sementara Nabi Ibrahim bersama istri pertamanya, Siti Sarah, berhijrah ke Mesir dan kembali semula ke Mekkah beberapa tahun kemudian. Di lembah bukit Shafa, Hajar yang ditinggal suami melahirkan dan membiarkan bayi lelakinya menggelepar, dititip kepada Allah, pohon kurma, desir angin, padang pasir, dan kepada matahari. Beliau harus mengejar fatamorgana yang tampak seakan-akan ‘menjanjikan’ harapan adanya air buat membersihkan bayi dan dirinya. Anaknya bernama Ismail adalah realitas dan fatamorgana adalah harapan. Siti Hajar, juga kita, berjuang antara realitas dan harapan. Dari Shafa, Hajar mengejar harapan itu sampai ke bukit Marwa. Tatkala mengejar, ‘sejuta’ rintangan datang dalam bentuk suara mengejek dan menghalangi. Ketika harapan terasa hampa dan sirna, Hajar harus kembali ke lembah bukit Shafa untuk menyaksikan Ismail (realitas), namun tiada perubahan yang signifikan. Untuk menyelamatkan Ismail, Hajar berlari lagi mengejar fatamorgana (harapan) ke bukit Marwa. Sepanjang perjalanan ini dihalang-halangi oleh suara bernada melecehkan perjuangannnya. Itulah suara setan!

Menghadapi cobaan dan musuh, Hajar tidak menerima aba-aba apa pun, seperti arahan Allah kepada Yukabid: “...kalau engkau khawatir, hanyutkan dia ke sungai (Nil). Sedangkan Siti Hajar datang, menantang, dan melempari kumpulan setan dengan batu sambil berlari. Inilah “action!” Di lokasi antara Shafa Marwa, rupanya sejak zaman jahiliyah dikenal sebagai markas berhala “Manat”, yang dipuja-puja orang Arab jahiliyah sambil berjoget dan berlari-lari. Jejak Siti Hajar, ternyata melintasi jalur ‘merah’ ini, kemudian menjadi haluan utama dalam manasik haji yang dijadikan sebagian syiar Allah. Tentang ini difirmankan, “Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebagian dari syiar Allah. Maka, barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa? Baginya, mengerjakan sa’i antara keduanya .(QS al-Baqarah:158).”

Beberapa sahabat sempat mempertanyakan kepada Rasulullah tentang keharusan melakukan sa’i sambil melakukan jumratul ula, wusta, dan ‘uqba antara Shafa-Marwa. Setelah turunnya ayat tersebut, segalanya terjawab. Setelah pulang dari arena perjuangan, Hajar tiba-tiba melihat pancaran air keluar dari pasir akibat gesekan kedua telapak kaki Ismail yang mungil. Beliau membendung air itu dengan tangannya seraya berkata: “Zam-zam” (diam-diam). Inilah selintas kisah air “Zam-zam”.

Kisah ini memberi informasi bahwa untuk melahirkan seorang figur yang masyhur di kemudian hari yang gerakannya diikuti oleh jutaan umat Islam setiap musim Haji, tidak harus dididik dengan memberi arahan; melainkan tokoh tersebut harus cerdas membaca keadaan, mencari ide, dan inisiatif untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya, tahu apa yang mesti dilakukan menghadapi cobaan dalam keluarga dan lawan sekalipun. Allah Maha Tahu mendidik dan mengantar Siti Hajar menjadi satu-satunya wanita di dunia yang gerakannya kemudian diikuti dalam manasik ibadah Haji. Barangkali, inilah yang membedakan Siti Hajar dengan Yukabid dan tokoh-tokoh wanita ternama di dunia.

Setelah Ismail dewasa, Ibrahim A. S datang dari Mesir dan mengabarkan mimpi beliau kepada putranya, Ismail: “Wahai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu? Dia menjawab: “Wahai Ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya-Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang benar (QS as-Shaffat:102).”

Secara tekstual, dalam kisah ini pun lagi-lagi tidak melibatkan Siti Hajar. Walau demikian, ketokohan Ismail tidak terlepas dari amatan, asuhan, dan didikan Siti Hajar, yang dengan kemampuan naluriah dan alamiah; beliau mampu mengantar Ismail menjadi seorang anak yang patuh kepada kedua orang tuanya, taat kepada Allah dan mengantar anaknya menjadi salah seorang Nabi/Rasul.

Mimpi Ibrahim yang mengerikan dan menakutkan, Ismail menyahutnya dengan rela hati demi mematuhi perintah Allah, walaupun dari sudut psikologi, dialog ini terasa tidak normal, terutama jawaban Ismail. Keputusan mereka benar-benar di luar jangkauan pemikiran manusia. Oleh sebab itu, untuk memahami peristiwa ini, semua argumentasi yang memakai instrumen logika dan rasional harus dikesampingkan. Keputusan rela mati dan siap mematikan adalah ujian dari iman dan takwa bahwa: Penentu dari segala-galanya—hidup dan mati--adalah Allah! Allah telah menunjukkan kuasa-Nya lewat jawaban Ismail dan secara tidak langsung ketulusan hati Ismail merupakan prestasi Siti Hajar yang berada di balik peristiwa itu.

Thesa Ibrahim dan antithesa (respons) Ismail yang sepakat menjalankan perintah Allah seperti teks yang diterima Ibrahim dalam mimpi itu; terjawab dalam sinthesa: “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang benar (QS as-Shaffat:107).” Ini menunjukkan bahwa Siti Hajar berhasil mendidik Ismail dalam takaran moral yang agung, sekalipun nyawa taruhannya.

Keseluruhan tindakan Siti Hajar merupakan refleksi dari ketegaran dan keteguhan jiwa seorang tokoh wanita sedunia. Namun, mengapa sebagian orang, sesudah kembali ke dalam lingkungan masyarakat, malah semakin bejat dan kurang ajar? Mungkin karena tidak pernah mau mengerti dan belajar tentang karakter dan tindakan Siti Hajar. Wallahu’aklam!
Yusra Habib Abdul Gani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar