‘Spesies Baru’ Samudera Hindia

alt



Para ilmuwan Inggris menemukan apa yang mereka yakini sebagai spesies-spesies baru di dekat ventilasi vulkanik di Samudera Hindia.






Tim peneliti dari Universitas Southampton menggunakan robot yang dikendalikan dari jarak jauh untuk memotret binatang-binatang tersebut.



Di antaranya terdapat mentimun laut, kepiting berbulu, dan keong bersisik.



Dr Jon Copley, salah satu peneliti dalam proyek ini, mengatakan timnya tertarik melakukan penelitian di lokasi tersebut karena ventilasi vulkanik ini berada di tengah persinggungan antara kawasan Samudera Hindia dan Atlantik.


"Makanya kami mengharapkan adanya binatang-binatang yang memiliki sifat-sifat Samudera Hindia dan Atlantik," kata Copley.

"Tapi kami juga menemukan binatang-binatang yang sama sekali berbeda dengan sifat asli dua kawasan yang bertetangga tersebut. Ini benar-benar satu kejutan," tambahnya.

"Salah satunya adalah kepting yeti yang berbulu. Yang kami ketahui ada dua spesies ini dari Pasifik. Yang kami temukan sama sekali berbeda dengan yang ada di Pasifik," jelas Copley.

"Tipenya sama tapi yang kami temukan memiliki kaki yang panjang dan ada banyak bulu di kaki-kaki binatang ini," katanya.

Tim ilmuwan juga mengatakan terkejut dengan banyaknya jenis-jenis kehidupan yang ditemukan di lokasi penelitian.

Para ilmuwan akan meneliti bagaimana binatang-binatang laut ini berevolusi.

Orang Shaleh dan Biasa

Di antara kelebihan Nabi Musa adalah dapat beraudiensi (berbicara) dengan Allah. Dengan kelebihan itu, ia dikenal dengan Kalimullah. Pada suatu saat, Nabi Musa ingin berjumpa dan dipanggil oleh Allah untuk datang ke bukit Sinai. Di tengah jalan, ia berjumpa dengan seorang yang shaleh. Orang itu mendekati Nabi Musa sambil mengatakan, “Wahai Kalimullah, saya ini orang shaleh. Semua ibadah, apakah itu shalat, puasa, zakat, haji atau yang lainnya, saya kerjakan. Bahkan, saya menderita atas keshalehan saya, demi ketaatan saya kepada Allah. Bagi saya, itu tidak menjadi masalah. Biarlah. Tetapi, saya ingin mendengar, kira-kira apa balasan yang Allah berikan kepada saya. Karena engkau seorang Nabi yang bisa berdialog dengan Allah SWT., tolong tanyakan kepada-Nya.” Nabi Musa dengan senyum menjawab, “Insya Allah.”
Nabi Musa melanjutkan perjalanannya. Sebelum sampai di bukit Sinai, dia bertemu dengan seorang biasa dan orang tersebut menghampiri Nabi Musa seraya berkata, “Ya Nabi Allah, saya ini orang biasa. Shalat jarang, maksiat jalan terus, amalan-amalan Agama tidak pernah dilakukan. Tetapi, itulah saya.” Nabi Musa mengatakan, “Lalu, kamu mau apa?” “Tolong ya, Nabi Musa, tanyakan kepada Allah tentang nasib saya di akhirat.” Musa pun dengan senyum mengatakan, “Insya Allah.”
Setelah dari bukit Sinai dan mendapatkan perintah Ten Commandements (Sepuluh Perintah Tuhan), Nabi Musa berjumpa dengan orang shaleh. Orang shaleh itu menanyakan, “Bagaimana tentang saya?” Nabi Musa mengakatan, “Allah telah memberikan tempat yang baik. Karena memang engkau telah berbuat baik dengan keshalehan.” Dengan senang dijawab oleh orang shaleh itu, “Wah, memang seperti yang telah saya duga sejak awal.” Setelah itu, tiba-tiba seorang yang biasa-biasa saja, datang kepada Nabi Musa. Dia bertanya, “Ya Nabi Musa, bagaimana nasib saya di akhirat?” Kata Nabi Musa, “Engkau akan ditempatkan pada tempat yang sangat buruk, sesuai dengan amalmu.” Dijawab oleh orang tersebut, dengan bangga. Ia bangkit, menari-nari. Sikap ini tentu diluar dugaan Nabi Musa sehingga terkejut. Orang biasa itu berkata, “Alhamdulillah, Allah masih ingat sama saya. Barangkali Allah sudah tidak ingat lagi kepada saya. Saya bersyukur itu. Sebab, Allah ingat saya. Saya mau ditempatkan dimana itu terserah Allah. Itu hak prerogatif.”
Singkat cerita. Begitu terjadi proses demikian, nasib kedua orang itu di Lauh Mahfudh diputar oleh Allah. Yang shaleh dipindahkan di neraka, yang preman dipindahkan ke surga. Itu semata-mata terjadi oleh karena hak prerogatif Allah SWT. Nabi Musa takjub. “Ya Allah, kok begitu?” Kata Allah, “Ini hak saya.” “Ya, tetapi apa penyebabnya?”, tanya Nabi Musa. Jawab Allah, “Orang pertama dengan amal shalehnya tidak layak memperoleh anugerah-Ku. Sebab, anugerah-Ku tidak dapat dibeli dengan amal shaleh. Sedangkan orang kedua itu telah membuat Aku tersenyum. Sebab, dia ridla terhadap apapun yang Aku berikan kepadanya. Keridlaannya itulah yang membuat Aku tersenyum dan senang.”
Huda Assalam

Balawangak

Setiap kelompok atau suku mempunyai sejarah yang unik. Sering ditemukan bahwa nama dari kelompok atau suku yang bersangkutan berasal dari nama binatang atau tumbuhan-tumbuhan tertentu yang dianggap sebagai nenek moyang mereka. Oleh karena itu mereka menghormati, menjaga dan memeliharanya secara khusus. Mereka tidak boleh membunuh apalagi memakannya.
Kebiasaan menganggap binatang atau tumbuhan tertentu sebagai nenek moyang ini dinamakan Totemisme Keluarga besar Balawangak boleh makan apa saja, tidak ada larangan khusus untuk anggota suku. Ini berarti nenek moyang Suku Balawangak bukan berasal dari binatang atau tumbuhan-tumbuhan tertentu.
Menurut ceritera dari generasi ke generasi nama Balawangak adalah nama yang diwariskan oleh nenek moyang. Berdasarkan kenyataan dan dikaitkan dengan centa dari jaman dahulu bahwa suku Pureklolon, Balawangak dan suku Matarau berasal dari daerah yang sama yaitu Seram Goran, Ambon- Maluku. Ketiga keluarga besar ini sering dipanggil Suku Klemata, artinya suku Kaka Arin (bersaudara).
Pertanyaannya, mengapa ketiga rumpun keluarga besar ini dipanggil Klemata/bersaudara? Ketiga suku ini berasal dari satu nenek moyang saja yakni dari pasangan Lappi dan Somi. Lappi dan Somi mempunyai seorang anak laki-laki yang diberi nama Lomma. Setelah anak mereka dewasa pasangan ini tidak betah lagi tinggal di Seram Goran.
Mereka bersama-sama dengan kelompok yang lain mulai mengembara mencari tempat yang lebih baik untuk menjamin masa depan keluarganya. Dapat kita katakan bahwa mereka ikut transmigrasi, tapi berbeda dengan transmigrasi dewasa ini. Kalau transmigrasi sekarang disponsori oleh pemerintah, sedangkan keluarga Lappi bersama kelompok lain itu bertransmigrasi atas kemauan sendiri.
Jasa angkutan yang dipakai tidak seperti yang sekarang, mereka menggunakan sampan-sampan kecil, perahu-perahu yang sederhana bentuknya. Sangat mengagumkan bahwa dengan jasa angkutan yang sederhana itu, lautan luas mereka arungi, amukan ganasnya gelombang mereka atasi dan akhirnya mereka berhasil mendarat di kawasan NTT.
Lappi sekeluarga tiba di suatu tempat yang bernama Selimuna Batan Lepan, yang terletak di Kedang, pulau Lembata. Sedangkan rombongan yang lain meneruskan perjalannya ke pulau Adonara. Lappi sekeluarga menetap di daerah itu dan mengadaptasikan kehidupan mereka seperti orang-orang di daerah itu. Anak mereka Lomma telah dewasa dan ia jatuh cinta dengan gadis pribumi yang bemama Kidi Kedang. Mereka menikah dan lahirlah dua putera masing-masing bernama Olabaga dan Pati.
Olabaga kemudian menikah seorang gadis bernama Kewa. Mereka dikaruniai dua orang putera, Tede dan Bala. Dia memberi nama keluarganya Pureklolon. Sedangkan Pati menikah dan memberikan nama keluarganya dengan nama Matarau. Lalu bagamiana dengan munculnya nama Balawangak?
Tede dan Bala (anak dari Olabaga) menjadi dewasa dan memilih pasangannya masing-masing. Tede sebagai anak sulung berhak memakai nama keluarga dari bapak, sedangkan Bala harus mencari nama baru untuk keluarganya. Dia lalu memutuskan untuk memakai kata Wangak untuk ditambahkan di belakang namanya, sehingga dia memanggil nama keluarganya Balawangak.
Dari kisah ini sangat jelaslah bahwa suku Pureklolon adalah yang sulung, kemudian Matarau
dan yang bungsu adalah Balawangak. Tradisi ini tetap berlaku sampai dengan dewasa ini, dimana tua adat dari suku Pureklolon selalu menentukan waktu dan saat pesta kacang (Weruone) diadakan. Pesta kacang atau dikenal Weruone ini berlangsung sampai saat ini, dan biasanya buat akhir bulan September atau awal Oktober di kampung adat Lewohala. Itulah sebabnya ketiga rumpun keluarga ini selalu disebut Klemata (suku Kaka Arin), karena berasal dari satu nenek moyang, pasangan Lappi dan Somi.
Mencari dan terus mencari adalah ciri khas hidup manusia. Keluarga Lappi dengan cucu-cecenya yang sudah lama menetap di Selimuna Batan Lepan rupanya ingin mengembara lagi. Mereka akhirnya mengucapkan sayonara untuk Selimuna Batan Lepan dan berlayar menuju suatu tempat yang bernama Beru watan tukan, Parek wai lolon, di sekitar bajak, pulau Lembata. Mereka tidak lama menetap di tempat ini karena terjadi perselisihan/pertengkaran
antara Olabaga dan Pati.
Sebab dari pertengkaran adalah geni kebare (masalah perebutan perempuan), keduanya tidak mau menyerah. Mereka bertahan pada pendirian masing-masing. Olabaga akhirnya menyatakan dirinya sebagai yang paling hebat, paling kuat dengan memakai istilah (kepahenaran):

Olabaga tugu wulan tukan
Leda lein dipelede tanah pana
Layu liman dikehila ill gole

Lalu Pati membalasnya dengan memakai istilah (kepahenaran):

Pati Usen teti kei Leramatan
Leda lein tanah lau timu tiban
Layu liman ekang weli kupang bua.

Kalau diterjemahkan secara harafiah artinya sebagai berikut:

Aku Olabaga, penopang sang bulan (wulan)
Menghentakkan kakiku, bagaikan halilintar yang mengoncangkan bumi.
Merentangkan tanganku, bagaikan kilat mampu menerangi seluruh gunung.

Moting (Pondok) persinggahan pertama bagi suku Klemata sebelum mereka mendapat ijin untuk tinggal di Lewahala, Baopukang. Dan balasan dari Pati diterjemahkan sebagai berikut:

Aku, Pati Usen, penjaga sang surya (lera)
Menghentakkan kakiku, dapat menghancurkan bumi
Merentangkan tanganku, dapat memisahkan daratan.

Ya….suatu perselisihan dengan kepahenaran tentu sulit didamaikan, walau antara kakak adik kandung. Dalam peristiwa ini, Olabaga dan Pati akhirnya berpisah, berpisah untuk selamanya. Pati bersama dengan anak-cucunya berlayar menuju Lewolera, sedangkan anaknya
Rau dan Goran berlayar bersama Olabaga menuju Lewohala. Mereka berlabuh di suatu tempat yang bernama Watu Pukan Manuelan, Okan Paga Wewa Matan. Perahu yang mereka bawa itu sekarang telah berubah menjadi batu besar yang disebut Jon Toda Nara.
Jon: perahu;
Toda: Kapten/Juragan;
Nara: penumpang.

Apakah nama desa Jontona adalah singkatan dari Jon Toda Nara? Olabaga bersama keluarganya mendarat di Watu Puken Manunelan Okan Paga Wewa Matan dengan perahu ini, yang telah berubah menjadi batu besar yang disebut Jon.
Sandro Wangak

Wahsyi Seorang Pembunuh Singa Allah

Imam al-Faqih al-Syaikh Nashr bin Muhammad bin Ibrahim al-Samarqandy berkata: Imam al-Tsiqqah telah berkata kepadaku dengan sanadnya yang diceritakan dari Ibn ‘Abbas RA., bahwa sesungguhya Wahsyi Si Pembunuh Hamzah Asadullah (Singa Allah), Paman Nabi SAW. telah berkirim surat kepada Rasulullah SAW. yang berada di Madinah, sedangkan Wahsyi berada di Mekah. Suratnya berbunyi, “Sesungguhnya saya ingin masuk Islam, tetapi ada yang menghalangi niat saya tersebut, yaitu ayat al-Qur’an yang diturunkan kepadamu (al-Furqan: 68), yang berbunyi, “Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” Sedangkan saya telah melakukan dosa tersebut ketiga-ketiganya. Apakah masih ada ampunan untukku?”

Maka turunlah ayat (al-Furqan: 70), yang berbunyi, “Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu, kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.” Rasulullah SAW. mengirimkan surat balasan yang berisikan ayat tersebut kepada Wahsyi. Kemudian Wahsyi membalasnya, “Namun, di dalam ayat tersebut masih terdapat suatu syarat, yaitu amal shaleh, dan saya tidak tahu apakah saya mampu beramal shaleh ataukah tidak.”

Maka turun lagi ayat (al-Nisa’: 116), yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” Rasulullah SAW. mengirimkan ayat tersebut kepada Wahsyi. Merasa masih keberatan, Wahsyi pun mengirimkan surat lagi, “Di dalam surat tersebut masih terdapat syarat lagi, dan saya tidak tahu apakah Allah menghendaki untuk mengampuni saya atau tidak.”

Kemudian turun lagi ayat (al-Zumar: 53), yang berbunyi, “Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Dan Rasulullah SAW. memberitahukan ayat tersebut kepada Wahsyi. Untuk ayat yang terakhir ini Wahsyi tidak menemui syarat apa pun untuk mendapatkan ampunan Allah. Maka dia memutuskan untuk datang ke Madinah menemui Rasulullah SAW., dan kemudian masuk Islam.
Huda Assalam

Jember, Kota yang Bingung dengan Sejarahnya

13252482451919012756

Sepuluh peraga busana menampilkan 10 kreasi terbaik saat Pre Press Exhibition Jember Fashion Carnaval X di Gedung Ciputra World Marketing Galerry, Jakarta Selatan, Sabtu (19/2/2011)./Admin (KOMPAS.com/Agus Setiawan)




Sebelumnya, ijinkan saya memberi gambaran singkat. Tulisan ini menjelaskan tentang sejarah kota kecil Jember. Mungkin akan menjadi tulisan yang agak panjang dan menjemukan. Mohon maaf.



Baiklah, segera akan saya mulai tulisan tentang kota kecil Jember.



Pada saat orang orang sedang sibuk meniupkan terompet tahun barunya, kota kecil Jember justru konsentrasi merayakan Hari Jadinya. Ya benar, pada 1 Januari 2012, Jember genap berusia 83 tahun.



Bercermin pada 1 Januari 1928, secara fakta dan hukum mulai saat itu Jember berubah menjadi ibukota Kabupaten. Dimulai dari ketentuan no 322 tanggal 9 Agustus 1928, berdasarkan staatblad. Jember ditetapkan sebagai Regentschap Djember. Tadinya Jember adalah salah satu wilayah Distrik dari Afdeling Bondowoso.



Kota ini terletak di bagian timur Propinsi Jawa Timur. Jaraknya dari Surabaya 198 km. Sebelah utara berbatasan dengan Bondowoso dan Probolinggo. Sebelah timur berbatasan dengan Banyuwangi. Sebelah barat berbatasan dengan Lumajang. Dan sebelah selatan berbatasan dengan samudra Indonesia.




Jika kita menengok papan nama di Stasiun Jember, maka kita akan tahu ketinggian daerah kota, kurang lebih 87 meter diatas permukaan laut. Dan bila dirata rata, ketinggian di Jember 0 sampai dengan 3300 mdpl. Itu bila diukur bersama ketinggian Gunung Argopuro yang sebagian masuk wilayah Jember.



Hmmm, membicarakan sejarah memang seringkali menjemukan. Apalagi bila harus memperinci gambaran tentang sebuah kota mulai dari garis meridiennya, temperatur udara, musim, tata wilayah, SDA yang ada, dan sebagainya. Agar lebih terlihat menarik, mari kita tengok asal usul Jember dari sudut pandang mitologi.



Asal Usul Jember



Ada banyak versi tentang asal usul kota Jember. Saya akan mencomotnya satu saja, yang menurut saya (ubyektif) paling masuk akal.



Pada jaman dulu. Saat pulau Jawa masih lebih banyak hutan belantara dibanding populasi yang ada. Manusia seringkali melakukan perpindahan untuk mencari tempat yang lebih baik. Ini bercerita tentang dua kelompok migrasi.



Kelompok pertama berasal dari suku Jawa. Jawa timur pedalaman. Seperti Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Blitar, Bojonegoro, Ponorogo dan sekitarnya. Kelompok migrasi kedua adalah Dari suku Madura. Kedua kelompok tersebut mencari tempat yang lebih baik dari sebelumnya. Keduanya bertemu pada satu titik.




Kelompok pertama dari suku Jawa berkata,”Nang kene ae, lemahe sik jembar”. Artinya, disini saja tanahnya masih luas. Kelompok kedua dari suku Madura juga berujar, “Iyeh, neng dinnak beih, tananah gik jembher”. Artinya, Iya disini saja, tanahnya masih luas. Begitulah awal terjadinya akulturasi. Percampuran kebudayaan.



Seiring dengan berjalannya waktu, kata kata jembar dan jembher berevolusi menjadi seperti yang kita tahu sekarang, JEMBER.



Itulah Jember bila dilihat dari legenda yang ada. Saya tampilkan asal asul di atas dengan harapan, akan lahir imajimasi tentang Jember tempo dulu. Bahwa kota ini lahir bukan diebabkan oleh reruntuhan kerajaan, namun memang sengaja dibangun. Pernah saya singgung di tulisan perdana saya di sini, berjudul Jember. Akan saya ceritakan kembali dari sudut yang tidak sama.




Jember dalam lacakan sejarah



Sejarah hanya berhasil melacak daerah ini sampai dengan 1859. Sebelum itu, hanya berupa praduga. Bisa jadi ini karena Jember bukanlah daerah reruntuhan kerajaan. Adapun benda benda kuno yang ditemukan di daerah ini disinyalir merupakan peninggalan kerajaan Majapahit atau Blambangan (Atau kerajaan lain yang sempat melintas di sini.



Saya akan menggambarkan tentang bagaimana Jember sebelum 1859.



Jember hanya merupakan sebuah hutan yang luas dengan pohon pohon yang besar. Tanahnya berawa hingga menyuburkan segala jenis penyakit seperti wabah kolera dan disentri. Bila ingin tinggal di daerah ini, anda harus bisa mengatasi ganasnya alam. Itu gambaran singkatnya (ini benar benar saya gambarkan secara singkat).



Jember pada 1859



Dimulai dari sebuah perkebunan di Jember. Namanya LMOD. Atau lebih lengkapnya, N.V. Landbauw Maatshcappij Oud Djember. Berdiri di Jember tahun 1859. Pertengahan abad 19 Masehi.




Siapa pendirinya? Pendirinya adalah pengusaha asal Belanda. Ada 3 leader. George Birnie, Matthiasen dan Van Gennep. Adanya LMOD ini melahirkan beberapa hal. Pertama, mengundang perusahaan swasta lain untuk menanamkan modalnya ke daerah Jember. Berikutnya, kebutuhan akan tenaga kerja.



Berhubung pribumi Jember sedikit, maka dihadirkan tenaga kerja dari luar wilayah. Ohya, tentang masalah pribumi Jember yang sedikit, itu hanya asumsi dari saya saja. Soalnya sampai saat ini saya masih belum menemukan data tentang itu.



Dihadirkanlah tenaga kerja dari Madura. Dengan alasan mempunyai karakter pekerja keras dan ulet. Namun demikian, pihak colonial kesulitan untuk masalah pengaturan. Maka dari itu lahir kebijakan berikutnya. Mendatangkan tenaga kerja dari wilayah pedalaman Jawa timur. Ini untuk memudahkan control dan pengaturan. Menurut pihak koloni, masyarakat Jawa tidak banyak melahirkan pertentangan. Mempunyai kecenderungan watak penurut.



Alasan kedua kenapa suku Jawa dan Madura tertarik ke Jember. Karena lancarnya Jalur transportasi.



Pada akhirnya, daerah ini semakin berkembang. Untuk mengangkut hasil bumi dan sebagainya, pihak kolonial butuh alat transportasi sebagai solusinya. Lalu dibukalah jalur kereta api dan selesai pada awal abad 20.



Dibukanya jalur kereta api tahun 1912 dari Surabaya-Probolinggo-Jember dibarengi dengan membuat jalan darat (rintisan) yang menghubungkan daerah terpencil menuju Jember. Itu membuat terjadinya gelombang migrasi yang besar. Terutama dari daerah daerah di bagian barat.




Jember dianggap memiliki prospek yang lebih baik. Ditempat yang baru dibuka ini mereka menaruh harapan untuk diri dan keluarganya. Mereka ingin memperoleh penghasilan yang lebih baik. Perpindahan penduduk Madura, Jawa serta suku suku lain ke Jember juga terjadi di wilayah karesidenan Besuki. Alasannya karena Jember termasuk wilayah Afdeling Bondowoso. Bondowoso sendiri termasuk wilayah dari karesidenan Besuki.



Perpindahan itu menggunakan berbagai macam cara. Seperti perdagangan, sebagai tenaga kerja buruh dan ekspedisi Militer.



Kenapa mereka memilih Jember untuk dijadikan areal perkebunan?



Jember mendapat perhatian dari pengusaha swasta Belanda karena beberapa hal berikut ini :



1. Masalah pengairan

Tersedianya air yang sangat cukup




2. Tanahnya Subur

Kesuburan tanah ini cocok untuk perkebunan



3. Masalah infrastruktur transportasi dan komunikasi

Infrastruktur transportasi dan komunikasi di Jember relatif bisa berkembang dibanding dengan wilayah yang lain. Ini sudah menjadi gambaran dan pertimbangan pihak kolonial.



4. Sudah ada masyarakat lokal di Jember (sebelum 1859).

Masyarakat lokal Jember ini sudah bisa menanam tembakau. Meskipun dengan jumlah yang sedikit dan untuk keperluan lokal saja.

Masih banyak lagi sejarah kota kecil ini yang terlacak, meskipun jauh lebih banyak lagi yang belum terlacak. Pemerintah Kabupaten Jember juga tidak tinggal diam. Di situsnya saya temukan kata kata seperti berikut ini.

Berbagai upaya baik seminar maupun penelitian yang telah dilakukan oleh lembaga penelitian, Perguruan Tinggi maupun oleh sejarawan belum bisa mengungkap kejelasan yang pasti tentang kapan Kabupaten ini lahir. Pemkab Jember masih memberi Kesempatan luas untuk menampung sumbangan pemikiran untuk dijadikan bahan kajian dalam menentukan fakta sejarah guna mengetahui kapan hari jadi Kabupaten Jember sebenarnya.

Begitulah, Jember kesulitan menentukan hari lahir yang sebenarnya. Dari kesulitan menentukan hari lahir, merembet pada kesulitan kesulitan yang lain. Contoh paling nyata, Jember selalu bingung menentukan arah budayanya. Istilah kasarnya, orang Jember selalu minder manakala harus membicarakan makanan khas, oleh oleh khas Jember dan kesenian milik Jember.Alhasil, Jember sengaja membuat tarian bernama tari lahbako. Jember juga memproduksi jajanan suwar suwir dan dikatakan sebagai ‘asli Jember’ padahal jelas jelas suwar suwir terbuat dari sari tape. Sedang tape sendiri sudah terlalu identik dengan Kota Bondowoso.


Jember adalah sebuah daerah pandalungan. Tempat bertemunya berbagai budaya. Dua kebudayaan besar yang mendominasi adalah Jawa dan Madura. Adalah tidak mungkin mencari keaslian budaya. Apalagi bila dari sudut pandang saya pribadi yang tidak percaya dengan adanya budaya asli. Semua pasti mengalami akulturasi.

Solusi subyektif

Berbicara mengenai solusi, saya jadi teringat akan musik tradisional patrol. Musik ini tumbuh dan berkembang di kota kecil Jember. Sangat disayangkan, semakin hari musik rancak yang selalu dirindukan kehadirannya ini semakin terengah engah dan ditinggalkan. Ada anggapan bahwa patrol merupakan seni asli Madura (di sana dikenal dengan nama musik thong thong). Beberapa kota lain juga memiliki seni musik tradisional yang semacam ini.

Bila masyarakat Jember jeli, mereka akan menemukan sesuatu yang khas di musik patrol. Perbedaan yang sangat nampak adalah dari alat musiknya. Musik thong thong Madura menggunakan saronen sebagai alat tiupnya. Sementara musik patrol menggunakan seruling. Lagu yang dinyanyikan juga lebih berwarna. Kadang lagu Madura kadang lirik lirik Jawa. Inilah bukti adanya perkawinan budaya jawa madura.Dilihat dari namanya, patrol. Dulunya musik ini digunakan oleh masyarakat Jember untuk memanggil burung dara peliharaannya. Selain itu juga sebagai media komunikasi. Ini untuk mengatasi jarak antar rumah yang berjauhan, juga sebagai penanda manakala sewaktu waktu terjadi sesuatu. Misalnya bencana alam, pencurian, kematian dan sebagainya. Mengenai model ketukannya, tergantung kesepakatan.

Seiring perkembangan areal perkebunan, musik patrol juga digunakan untuk berpatroli keliling kebun, demi memastikan semuanya baik baik saja.

Begitulah, tak ada yang asli di Jember. Kita harus mengesampingkan kata kata asli. Karena memang lebih bijak bila kata asli diganti dengan kata khas.
Tentang sejarah

Saya tahu, penarikan sejarah yang dimulai pada 1859 lahir di wilayah akademisi Universitas Jember. Tapi itu bukan final. Terbukti, di sana terdapat celah. Disebutkan bahwa pihak kolonial tertarik membangun perkebunan tembakau karena sudah ada masyarakat lokal Jember yang bisa meracik tembakau. Nah, tugas kita hanyalah mencari data di tahun sebelum 1859. Dan ini bukan sebuah kemustahilan.

Saya contohkan tentang kerajaan Sriwijaya. Ada peninggalan prasasti dan diyakini, keberadaan Sriwijaya sudah ada pada abad ke tujuh. Karena peperangan di abad 12, kerajaan ini jatuh dan terlupakan. Eksistensinya baru diketahui lewat publikasi tahun 1918 dari sejarawan Perancis.


Saya yakin Jember bisa melacak kembali sejarahnya bila dilakukan benar benar, bukan hanya sambilan. Dan tidak hanya terjebak pada pembangunan identitas yang bersifat populer.

Memberikan porsi yang cukup pada sejarah itu indah. Setidaknya, dengan menghargai sejarah, Jember akan terlihat lebih anggun dalam menghadapi era global.
Bagaimana memulainya? Kenapa tidak dimulai dengan pembangunan Jalan Deandles? dari sana saja, itu sudah mematahkan teori bahwa Jember hanya terdeteksi sejak 1859. Atau kalau ingin yang lebih prestisius lagi, mari kita tengok tahun 1359. Saat itu Raja Hayam Wuruk sedang melakukan perjalanan darat menuju Panarukan (Panarukan memiliki pelabuhan internasional di jamannya, dan letaknya sangat strategis). Nah, mungkin kita bisa menggalinya dari sini.Baiklah, itu saja sedikit urun rembug dari saya, seorang rakyat biasa yang gelisah dengan sejarah kota kecilnya sendiri.

Dirgahayu Jember
R. Z Hakim