Zainuddin Labay Tokoh Pers Padang Panjang

Zainuddin Labay El Yunusy lahir tanggal 12 Rajab 1308 Hijriyah atau pada tahun 1890 Masehi di sebuah rumah gadang di Jalan Lubuk Mata Kucing, Kenagarian Bukit Surungan, Padang Panjang. Ia anak dari seorang ulama ternama di Pandai Sikek, yaitu Syekh Muhammad Yunus. Ia kakak kandung tertua dari Rahmah El Yunusiyah, pendiri Perguruan Diniyah Puteri. Ibunya bernama Rafiah. Ia bersaudara lima orang.

Dalam buku Peringatan 55 Tahun Diniyah Putri Padang Panjang (1978) disebutkan, Zainuddin Labay mula-mula ingin belajar agama ke Sungai Batang Maninjau dengan ulama terkenal Haji Abdul Karim Amrullah (ayah Buya Hamka). Namun karena Maninjau dianggap jauh ketika itu, ibunya keberatan melepaskannya. Akhirnya ia memilih mengaji ke Padang Japang, Payakumbuh. Di sana ia belajar dengan seorang ulama terkenal bernama Haji Abbas selama dua tahun (1911-1913).

Ketika belajar di Padang Japang ini, Zainuddin pernah berselisih paham dengan gurunya. Ia termasuk anak yang tercerdas, sehingga diangkat pula menjadi guru bantu di sana. Kebiasaannya dalam memanggil murid belajar ialah dengan pluit. Terjadinya perselisihan dengan gurunya ialah, karena ia berani mengajar ilmu agama yang belum pernah diajarkan kepadanya.

Ketika Haji Abdul Karim Amrullah (Inyiak DR, ayah Hamka) menetap di Padang Panjang untuk menyiarkan agama Islam yang berbasis di Surau Jembatan Besi, Zainuddin tertarik untuk belajar kepada guru itu. Ia pun pulang ke Padang Panjang untuk menuntut ilmu. Ia termasuk seorang murid yang cerdas. Ia lebih banyak belajar sendiri. Oleh gurunya telah tampak bakat mengarangnya sejak remaja. Bahasa tulisnya bagus dan tajam. Ia banyak membaca buku-buku karangan Mustafa Kamil, dan sering melakukan surat menyurat (korespondensi) dengan tokoh kebangsaan Mesir ini, walaupun keduanya tidak pernah bertemu muka. Zainuddin Labay dikagumi oleh guru dan kawan-kawannya.

Setelah belajar langsung dari Inyiak DR di Surau Jembatan Besi, Zainuddin kemudian berinisiatif menambah ilmunya dengan menuntut ke Kota Padang, karena ia mendengar di kota ini terdapat seorang ulama modern bernama Dr. Haji Abdullah Ahmad. Oleh ibunya ia diberi uang bekal sebesar 20 gulden. Tapi selang seminggu kemudian ia telah muncul kembali di rumah ibunya. Semua uang yang diberikan ibunya dulu, dibelinya buku-buku dan koran atau majalah berbahasa Inggris. Di Padang banyak dijual orang majalah atau koran dalam bahasa asing. Untuk apa koran, majalah dan buku-buku yang banyak itu orang lain tidak tahu dan tidak ada yang berani menegurnya.

Selain kesenangannya membaca surat kabar dan buku-buku, ia juga menguasai beberapa bahasa asing, selain Bahasa arab, yaitu Inggris, Prancis dan Belanda. Semua itu ia pelajari tanpa guru. Pada masa itu pernah turis asing datang ke Padang Panjang, dialah yang diajak untuk menjadi juru bahasa.

Pada tahun 1914 ia telah mulai membantu menulis dalam majalah “Al Munir” yang diterbitkan di Padang di bawah pimpinan Haji Abdullah Ahmad (terbit 1911). Menurut Buya Hamka, pena Zainuddin ini tajam. Akhirnya ia dijadikan pembantu tetap dalam Majalah “Al Munir” tersebut.

Rupanya ia merasa tidak puas menjadi pembantu di Majalah “Al Munir” Padang ini, maka ia kemudian melakukan pendekatan ke Sumatera Thawalib di Padang Panjang untuk menerbitkan sebuah majalah Islam yang lain isinya untuk kemajuan umat. Setelah Majalah “Al Munir” Padang tidak terbit lagi karena percetakannya terbakar, terbitlah majalah yang sama namanya yaitu “Al Munir El Manar”, tetapi berbeda dalam metode pengupasan dan cara penyajiannya. Di majalah ini, pengupasan masalah agama Islam tidak hanya dari sudut pandang mazhab Imam Syafi’i saja, tetapi juga mazhab-mazhab lain. Dengan terbitnya majalah “Al Munir” versi Padang Panjang yang didirikan Zainuddin Labay ini, mulailah pengkajian ajaran agama Islam secara mendalam.

Buya Hamka dalam catatannya menulis; “1924, suasana ketika itu masih diliputi kesedihan, karena orang besar yang dikenal di rumah gadang itu baru saja meninggal dunia, yaitu Allahummaghfirlahu Zainuddin Labay El Yunusy. Tetapi meskipun muram suram karena kesedihan, namun rumah itu tetap diliputi suasana agama. Ummi Rafi’ah, orang tua dari semua tetap berwajah tenang dan bersikap lemah lembut. Demikian juga anak-anak perempuan beliau, Mariah, Rahmah, dan Upik. Kepada saya diperlihatkan surat kabar “Al Akhbar” yang dipimpin Tuan Labay sebelum mengeluarkan sendiri surat kabar “Al Munir” di Padang Panjang.

Hampir seabad tokoh agama yang juga wartawan ini meninggalkan tanah Padang Panjang. Selama usia itu pula, belum terbetik kabar ada majalah lain yang dipimpin tokoh-tokoh sekaliber Zainuddin Labay di Padang Panjang. Dan, tentu saja kita rindu hadirnya “Zainuddin Labay-Zainuddin Labay” yang baru, yang tidak saja berdakwah secara lisan namun juga melalui tulisan-tulisannya yang tajam di media-media dakwah yang dimpimpinnya sendiri. (*)

Muhammad Subhan

Beda Salafi dengan Wahabi

Sekilas keduanya nampak sama. Namun, latar belakang lahirnya kedua istilah itu sungguh bertolak belakang 180 derajat. Istilah salafi lahir sebagai identifikasi sebuah gerakan pemurnian Islam sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. Kata salaf sendiri berarti “yang terdahulu”. Dalam hal ini pengertian salaf (yang terdahulu) adalah generasi Sahabat Nabi, Tabiin, dan Tabiut Tabiin. Pengertian itu merujuk kepada sebuah hadis Nabi SAW yang berbunyi, “Sebaik - baik generasi adalah mereka yang hidup pada masaku, kemudian sesudahnya lagi, kemudian sesudahnya lagi”. Jadi, salafiyah adalah ajaran Islam yang merujuk kepada Al-Qur’an dan As Sunnah berdasarkan pemahaman salafus shalih (tiga generasi awal). Orang - orang yang mengikuti ajaran salafiyah disebut dengan salafi.

Apa beda Salafiyah dengan Ahlus Sunnah?

Secara umum umat Islam awam mengartikan Ahlus Sunnah sebagai :

1. Golongan mayoritas

2. Golongan yang selamat, dalam artian bukan salah satu dari 72 golongan yang terancam api neraka sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadis terkenal tentang perpecahan umat.

3. Lawan dari Syiah. Dewasa ini media kerap mengartikan Ahlus Sunah (pengikutnya disebut Sunni) sebagai semua lawan dari kaum syiah yang masih termasuk kaum muslimin. Padahal, kalau kita cermati pihak - pihak yang berlawanan dengan Syiah sangat banyak dengan aqidah yang berbeda - beda pula.

4. Paham yang dinisbatkan kepada Imam Abu Hasan al Asy’ary(Asy’ariah) dan Abu Mansur al Maturidi (Maturidiah). Definisi keempat ini banyak tertulis di pelbagai buku Pendidikan Agama Islam SMA dan Perguruan Tinggi. Salah satu buku terkenal yang menyatakan demikian adalah “Teologi Islam” karya Dr. Harun Nasution.

Dari beberapa definisi di atas, hanya poin nomor 3 yang benar. Adapun poin 4 yang banyak diamini oleh kalangan akademisi jelas salah 100%. Paham Asy’ariah yang oleh masyarakat luas dikenal sebagai Ahlus Sunnah, justru berasal dari pemikiran Imam Abu Hasan al Asy’ari ketika beliau mengalami pergolakan batin dalam mencari kebenaran. Akhirnya Imam Abu Hasan al Asy’ari bertobat dan kembali kepada ajaran Islam sebagaimana dipahami generasi salafus shalih. ajaran paham Asy’ariah yang terkenal adalah :

1. membatasi sifat Allah dengan 20 sifat wajib sebagaimana kita kenal seperti wujud, qidam. baqa’, mukhalafatu lil khawaditsi, dst. Penetapan yang demikian tidak pernah dilakukan oleh kalangan Sahabat Nabi yang paling memahami ajaran Islam.

2. mentakwilkan beberapa sifat Allah, seperti “tangan ” Allah ditakwilkan menjadi kekuasaan Allah, “wajah” Allah ditakwilkan sebagai Ilmu Allah, dan sebagainya. Pentakwilkan semacam ini tidak pernah dilakukan oleh para Sahabat Nabi yang telah ditetapkan Rasulullah sebagai generasi terbaik. Para Sahabat Nabi mengimani semua sifat - sifat Allah tanpa mentakwilkan, meniadakan, menanyakan bagaimana, serta menyerupakan dengan makhluk. Dengan kata lain mereka meyakini, benar bahwa Allah memiliki tangan, wajah sebagaimana telah dinyatakan dalam Al-Qur’an dan As Sunnah, namun tangan Allah, wajah Allah tidak sama dengan makhluk. Mahasuci Allah dari hal yang demikian.

Terminologi Ahlus Sunnah baru populer setelah abad III Hijriah, untuk membedakannya dengan berbagai sekte menyimpang semisal Khawarij, Syiah, Muktazilah, Jabariyah, dan Qadariyah. Dengan kata lain terminologi Ahlus Sunnah digunakan sebagai penegasan tentang ajaran Islam murni sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW kepada para Sahabat.

Seiring perjalanan waktu kian banyak berbagi pergerakan Islam, partai, organisasi yang mengklaim berazaskan Ahlus Sunnah. Namun faktanya, tak sedikit dari berbagai kelompok tersebut yang dalam aqidahnya, metodologinya, atau tujuan dakwahnya melenceng dari ajaran Ahlus Sunnah yang sesungguhnya. Sebuah ormas besar yang mengklaim sebagai penggerak dakwah Ahlus Sunnah, nyatanya ormas tersebut lebih banyak melestarikan berbagai ajaran syirik, bid’ah, dan pengkultusan terhadap kyai yang amat bertentangan dengan ajaran Ahlus Sunnah itu sendiri. Oleh karena itu, untuk membedakan Ahlus Sunnah yang sungguhan dengan Ahlus Sunnah yang hanya sebatas lebel digunakanlah istilah Salafiyah. Jadi, salafiyah hakekatnya merupakan sebutan lain dari Ahlus Sunnah Wal Jamaah untuk membedakannya dari Ahlul Bid’ah Wal Jamaah.

Apa beda Salafi dengan Wahabi?

Istilah wahabi dinisbatkan kepada Syaikh Muhamad bin Abdul Wahab at Tamimi, seorang ulama besar dari Hijaz yang berjuang menegakkan tauhid memberantas kesyrikan di semenanjung Arabia. Dilihat dari penyebutannya saja istilah ini sudah rancu, lantaran kata wahabiyah justru mengacu pada ayah Syaikh Muhamad at Tamimi sebagai penggerak dakwah yang bernama Abdul Wahab. Jika mau fair, harusnya dakwah beliau disebut Muhamadiyah sesuai dengan nama tokohnya. Akan tetapi jika nama itu yang digunakan, maka tujuan pemunculan istilah tersebut sebagai alat penggiring opini negatif terhadap dakwah beliau takkan pernah terwujud.

Dapat dipastikan istilah wahabiyah sengaja dimunculkan oleh pihak - pihak yang tak menyenangi dakwah beliau baik dari kalangan kafir maupun dari kalangan kaum muslimin itu sendiri. Tak cukup dengan sekedar penciptaan opini, musuh - musuh dakwah tauhid bahkan menciptakan sejarah palsu tentang dakwah beliau . Wahabi selalu diidentikkan dengan kekerasan, kebrutalan, dan jejak berdarah. Saat ini pun, ketika terjadi teror yang mengguncang tanah air sebagian orang langsung menuduh wahabi sebagai biang keroknya. Apalagi bila pelakunya memiliki identitas jenggot, jidat hitam, celana ngatung, dan istrinya bercadar. Tuduhan itu sungguh tak berdasar.Pasalnya, dalam berbagai kitab yang ditulis oleh para ulama yang dicap wahabi, justru menyerukan kepada kaum muslimin untuk mentaati pemerintahnya. Tak main - main. Taat terhadap penguasa merupakan salah satu pilar aqidah. Bahkan, Saudi Arabia yang dicap sebagai tempat tumbuh berkembangnya wahabiyah justru sering menjadi sasaran teror Al Qaida.

Sebetulnya penyebutan istilah wahabi dengan konotasi negatif bukan barang baru di tanah air. Dulu, di masa pemerintahan Hindia Belanda, istilah tersebut juga dimunculkan untuk memberi stigma negatif para da’i yang menolak taklid terhadap mazhab dan menolak pelestarian adat istiadat yang berbau kesyrikan. Para da’i yang acapkali diberi stigma wahabi kala itu adalah mereka yang tergabung dalam organisasi Muhamadiyah, Persis, dan Al Irsyad.

Jadi, apa beda salafi dengan wahabi? Perbedaannya adalah pada asal muasal pemunculan istilah tersebut. Istilah Salafi dimunculkan sebagai identitas atas sebuah dakwah tauhid yang menyeru kepada umat untuk kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah berdasarkan pemahaman salafus shalih. Sedangkan, istilah wahabi dimunculkan oleh musuh - musuh dakwah tauhid baik dari golongan kafir maupun kaum muslimin sendiri yang kian resah lantaran dakwah ini semakin berkembang dari hari ke hari. Siapakah golongan umat Islam yang tak menghendaki dakwah tauhid ini berkembang pesat menyinari hati para insan?

1. Kaum liberalis yang memang selalu mengeluarkan fatwa - fatwa super nyeleneh seperti bolehnya seorang muslimah menikahi pria di luar Islam, bolehnya menghadiri perayaan Natal (ingat 25 Desember bukanlah hari kelahiran Yesus, melainkan kelahiran Dewa Matahari dalam mitologi romawi. Saking kentalnya pengaruh kultur Romsawi dalam ajaran Kristen, sampai - sampai hari sabat yang harusnya jatuh hari sabtu diganti dengan hari minggu yang merupakan hari kelahiran Dewa Matahari. Sun=matahari, day=hari, Sunday=hari matahari), dsb

2. kalangan penyembah kubur, pengkultus kyai, dan semacamnya. Bila dakwah tauhid berkembang, para kyai(Tidak semua kyai, namun memang ada kyai jenis ini) akan kehilangan kedudukannya, penghasilannya, dan kewibawaannya. Mengapa? Kyai (ada yang merangkap dukun) tak lagi mendapat amplop dari orang - orang yang meminta doanya dalam berbagai acara bid’ah, dan orang - orang yang yang meminta jimat darinya dengan bayaran mahal. Praktek para kyai ini tak ubahnya seperti kelakuan para pendeta yang menjual surat pengampunan dosa sebelum terjadinya Reformasi Protestan.

Demikianlah sedikit tentang perbedaan latar belakang lahirnya terminologi salafi dan wahabi, yang banyak orang keliru dalam menyikapinya.

Muhamad Karyono

Abu Bakar Ash Shiddiq

Abu Bakar ash-Shiddiq(573 - 634 M, menjadi khalifah 632 - 634 M) lahir dengan nama Abdus Syams, adalah khalifah pertama Islam setelah kematian Muhammad. Ia adalah salah seorang petinggi Mekah dari suku Quraisy. Setelah memeluk Islam namanya diganti oleh Muhammad menjadi Abu Bakar. Ia digelari Ash- Shiddiq yang berarti yang terpercaya setelah ia menjadi orang pertama yang mengakui peristiwa Isra’ Mi’raj.

Ia juga adalah orang yang ditunjuk oleh Muhammmad untuk menemaninya hijrah ke Yatsrib. Ia dicatat sebagai salah satu Sahabat Muhammad yang peling setia dan terdepan melindungi para pemeluk Islam bahkan terhadap sukunya sendiri.

Ketika Muhammad sakit keras, Abu Bakar adalah orang yang ditunjuk olehnya untuk menggantikannya menjadi Imam dalam Salat. Hal ini menurut sebagian besar ulama merupakan petunjuk dari Nabi Muhammad agar Abu Bakar diangkat menjadi penerus kepemimpinan Islam, sedangkan sebagian kecil kaum Muslim saat itu, yang kemudian membentuk aliansi politik Syiah, lebih merujuk kepada Ali bin Abi Thalib karena ia merupakan keluarga Nabi. Setelah sekian lama perdebatan akhirnya melalui keputusan bersama umat islam saat itu, Abu Bakar diangkat sebagai pemimpin pertama umat islam setelah wafatnya Muhammad. Abu Bakar memimpin selama dua tahun dari tahun 632 sejak kematian Muhammad hingga tahun 634 M.

Selama dua tahun masa kepemimpinan Abu Bakar, masyarakat Arab di bawah Islam mengalami kemajuan pesat dalam bidang sosial, budaya dan penegakan hukum. Selama masa kepemimpinannya pula, Abu bakar berhasil memperluas daerah kekuasaan islam ke Persia, sebagian Jazirah Arab hingga menaklukkan sebagian daerah kekaisaran Bizantium. Abu Bakar meninggal saat berusia 61 tahun pada tahun 634 M akibat sakit yang dialaminya.

Abu Bakar menjadi khalifah hanya dua tahun. Pada tahun 634 M ia meninggal dunia. Masa sesingkat itu habis untuk menyelesaikan persoalan dalam negeri terutama tantangan yang disebabkan oleh suku-suku bangsa Arab yang tidak mau tunduk lagi kepada pemerintah Madinah sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam. Mereka menganggap bahwa perjanjian yang dibuat dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam, dengan sendirinya batal setelah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam wafat. Karena itu mereka menentang Abu Bakar. Karena sikap keras kepala dan penentangan mereka yang dapat membahayakan agama dan pemerintahan, Abu Bakar menyelesaikan persoalan ini dengan apa yang disebut Perang Riddah (perang melawan kemurtadan). Khalid ibn Al-Walid adalah panglima yang banyak berjasa dalam Perang Riddah ini.

Nampaknya, kekuasaan yang dijalankan pada masa Khalifah Abu Bakar, sebagaimana pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam, bersifat sentral; kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif terpusat di tangan khalifah. Selain menjalankan roda pemerintahan, Khalifah juga melaksanakan hukum yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Meskipun demikian, seperti juga Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam, Abu Bakar selalu mengajak sahabat-sahabat besarnya bermusyawarah.

Setelah menyelesaikan urusan perang dalam negeri, barulah Abu Bakar mengirim kekuatan ke luar Arabia. Khalid ibn Walid dikirim ke Iraq dan dapat menguasai wilayah al-Hirah di tahun 634 M. Ke Syria dikirim ekspedisi di bawah pimpinan empat panglima yaitu Abu Ubaidah ibnul Jarrah, Amr ibnul ‘Ash, Yazid ibn Abi Sufyan dan Syurahbil. Sebelumnya pasukan dipimpin oleh Usamah ibn Zaid yang masih berusia 18 tahun. Untuk memperkuat tentara ini, Khalid ibn Walid diperintahkan meninggalkan Irak, dan melalui gurun pasir yang jarang dijalani, ia sampai ke Syria.

Imam Hambali

Istilah Salafi dalam Sejarah, Sebuah Riwayat

Selain ahlus sunnah, al-jama’ah, ahlus sunnah wal jama’ah, ashhab al-hadits, dan ahlul hadits, mereka yang mengikuti cara beragama para salaf (generasi sahabat Rasulullah, tabi’in, tabi’tu tabi’in) disebut juga dengan as-salafi. Sebutan seperti ini mengikuti pola baku penyandaran (penisbatan) yang dikenal dalam bahasa Arab; as-salafi dalam bahasa Arab berarti pengikut salaf.

Yang sering jadi perdebatan, bahkan pokok sanggahan bagi mereka yang berseberangan dengan kelompok Salafi, adalah asal mula penggunaan sebutan as-salafi itu. Kapan sebutan itu pertama kali muncul dalam sejarah Islam? Sejumlah pihak, seperti Syaikh Idahram dalam Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Para Ulama, meragukan jika as-salafi atau salafiyyun atau sekarang akrab disebut salafi sebagai sebutan untuk para pengikut salaf telah lama dikenal dan digunakan di tengah kaum muslimin dulu.

Keraguan semacam itu dapat disingkirkan, sebenarnya, jika kita mau memeriksa karya-karya sejarah yang ada. Dalam Siyar A’lam An-Nubala’, salah satu karya sejarah yang diakui kaum muslimin, Muhammad bin Ahmad Adz-Dzahabi beberapa kali menyebut kata as-salafi. Hidup pada 673 – 748 H atau sekitar 1301 – 1374 M, Adz-Dzahabi, misalnya, menyebut Ya’qub bin Sufyan Al-Fasawi sebagai seorang as-salafi.

Al-Fasawi sendiri dikenal sebagai seorang ahlul hadits yang hidup pada masa pemerintahan khalifah Harun Ar-Rasyid. Di antara murid-murid Al-Fasawi adalah Imam At-Tirmidzi, Imam An-Nasa’i, Imam Ibnu Khuzaimah, Abu Bakar bin Abi Dawud As-Sijistani, dan Abu ‘Awanah Al-Isfirayini.

Dalam biografi Utsman bin Khurrazad Ath-Thabari, Adz-Dzahabi kembali menyinggung kata as-salafi atau salafi. Mengomentari ucapan Utsman bin Khurrazad Ath-Thabari, Adz-Dzahabi mengemukakan sejumlah syarat yang mesti dimiliki oleh seorang penghafal hadits. “Seorang penghafal hadits itu,” tulis Adz-Dzahabi,

“mestilah seorang yang bertakwa, cerdas, pakar dalam ilmu Nahwu (gramatika bahasa Arab) dan ilmu bahasa, jernih-hati, bersemangat selalu, seorang salafi, sanggup menulis dengan tangannya sendiri 200 jilid karya-tulis, telah menghasilkan 500 jilid karya-tulis yang menjadi referensi, dan tidak putus asa dalam mencari ilmu dengan keikhlasan serta kerendahan-hati sampai maut menjemput.”

Demikian pula ketika membicarakan Imam Ad-Daruquthni, pemilik karya Sunan Ad-Daruquthni, Adz-Dzahabi menyebut kata salafi. “Ad-Daruquthni,” tulisnya, “adalah seorang yang tidak akan pernah turut serta mempelajari ilmu kalam, tidak pula ilmu debat. Ia tidak pernah mendalami ilmu itu. Bahkan, ia adalah seorang salafi.”

Di jilid-jilid yang lain, Adz-Dzahabi kembali menyematkan sebutan salafi ketika membicarakan biografi Ibnu Shalah, Ahmad bin Isa Al-Maqdisi, Imam Az-Zabidi, dan Ibnu Hubairah. Tentang Ibnu Shalah, Adz-Dzahabi menyebutnya “seorang salafi yang baik akidahnya.” Tentang Al-Maqdisi, Adz-Dzahabi memujinya dengan “seorang yang dapat dipercaya, kuat hafalannya, pandai, seorang salafi.” Menariknya, Imam Az-Zabidi dijuluki Adz-Dzahabi sebagai seorang salafi meski bermazhab Hanafi. Adapun Ibnu Hubairah, Adz-Dzahabi menjulukinya sebagai seorang pakar bahasa Arab yang salafi.

Dari situ, setidaknya, fakta paling kuat dan tidak-terbantahkan adalah fakta bahwa Adz-Dzahabi telah menggunakan sebutan as-salafi atau salafi dalam salah satu karyanya. Memerhatikan redaksi kalimat yang dipakai, pada masa hidup Adz-Dzahabi, Salafi telah umum digunakan untuk menyebut orang-orang yang mengikuti cara beragama para salaf.

Yang tersisa sekarang justru satu pertanyaan tak-penting tetapi cukup menggelitik. Mengapa Adz-Dzahabi tidak menggunakan sebutan ahlus sunnah wal jama’ah? Mengapa, misalnya, tidak ditulis “seorang yang dapat dipercaya, kuat hafalannya, pandai, seorang ahlus sunnah wal jama’ah” ketika memuji Al-Maqdisi?

Kita dapat mulai mencari jawab atas pertanyaan itu dengan memerhatikan peristiwa yang terjadi pada masa Ahmad bin Hanbal. Pada masa itu terjadi apa yang sering disebut dalam buku-buku sejarah sebagai peristiwa al-mihnah.

Peristiwa al-mihnah sering juga disebut dengan ayyam al-mihnah yang berarti hari-hari ujian. Dikatakan ujian, karena pada hari-hari itu setiap orang diuji sikap keberagamaannya dengan pertanyaan “Al-Qur’an itu makhluk (ciptaan Allah) atau kalam Allah?” oleh penguasa Bani Abbasiyah.

Bagi penguasa, muslim yang baik waktu itu adalah siapa saja yang menjawab pertanyaan tersebut dengan “Al-Qur’an adalah ciptaan Allah.” Mereka yang menjawab sebaliknya dikategorikan sebagai muslim yang buruk akidahnya dan karena itu patut untuk ditindak.

Membandingkan dengan sejarah Kristen Eropa, ujian seperti itu hampir dapat disamakan dengan proses inkuisisi yang pernah dilakukan oleh gereja Katolik terhadap para pelaku kebid’ahan dan kesesatan atau siapa saja yang dituduh melakukan itu.

Khalifah Bani Abbasiyah yang pertama kali menggagasnya adalah khalifah Al-Makmun. Sejak pemerintahannya, al-mihnah terus dilaksanakan pada masa pemerintahan dua khalifah setelahnya, Al-Mu’tashim dan Al-Watsiq. Selama masa pemerintahan mereka, Ahmad bin Hanbal ditahan dan disiksa karena keyakinannya itu.

Kebijakan itu baru selesai pada masa khalifah Al-Mutawakkil. Al-mihnah dihapuskan dan Ahmad bin Hanbal dibebaskan. Ahmad bin Hanbal yang sejak semula dikenal sebagai seorang ahlul hadits dan mengikuti cara beragama para salaf menjadi semacam benteng terakhir akidah kaum muslimin waktu itu.

Hal itu turut diakui oleh banyak sejarawan dan sarjana Barat yang menulis sejarah tentang al-mihnah. Seperti Phillip K. Hitti, dalam History of the Arabs, mencatat bahwa

“Konservatisme Ibnu Hanbal merupakan benteng ortodoksi di Baghdad terhadap berbagai bentuk inovasi kalangan Mu’tazilah. Meskipun telah menjadi korban inkuisisi (al-mihnah), dan pernah diikat dengan rantai pada masa Al-Makmun, serta dihina, dan dipenjara oleh Al-Mu’tashim, Ibnu Hanbal tetap teguh pada pendiriannya, dan tidak mengakui berbagai bentuk modifikasi terhadap keyakinan tradisional.”

Pada prinsipnya, serangan kaum rasionalis, dalam hal ini kelompok Mu’tazilah, terhadap keyakinan yang ada di tengah kaum muslimin waktu itu adalah juga serangan terhadap cara beragama para salaf. Kegagalan serangan itu dan refresi dari pihak penguasa hanya menambah derajat keengganan banyak orang untuk beragama dengan prinsip-prinsip Mu’tazilah.

Meski demikian, kegagalan mereka itu tidak membuat kelompok Mu’tazilah surut dengan keyakinan mereka. Sebaliknya, mereka masih diperkenankan penguasa untuk tinggal di Baghdad serta sejumlah kota yang ada dan mengajarkan prinsip-prinsip mereka.

Belum genap seratus tahun Ahmad bin Hanbal meninggal-dunia, kecenderungan sejarah berubah ketika Abul Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari (260 – 324 H). muncul ke tengah kaum muslimin. Berusaha mewakili mayoritas kaum muslimin dalam meruntuhkan argumen-argumen Mu’tazilah, Al-Asy’ari justru menawarkan semacam bentuk kompromi antara keyakinan Mu’tazilah dan ahlul hadits.

Dengan metode yang dikembangkannya, paruh pertama abad ketiga Hijriah pun akhirnya menyaksikan kejatuhan kelompok Mu’tazilah di muka sejarah. Menyusul setelah itu Karramiyah, kelompok-kelompok sempalan yang menampik prinsip bahwa Allah memiliki sifat-sifat, juga teologi Zoroaster dan Kristen.

Karena bukan lagi bagian dari Mu’tazilah yang minoritas waktu itu, Al-Asy’ari dipandang sebagai wakil terkemuka dari mayoritas kaum muslimin. Tidak berlebihan, karenanya, jika banyak orang yang menjulukinya sebagai imam ahlus sunnah wal jama’ah pada abad ke-3 Hijriah.

Akan tetapi, mereka tidak menyadari satu fakta penting bahwa Al-Asy’ari telah berseberangan dengan ahlul hadits. Lewat Al-Ibanah min Ushul Ad-Diyanah yang ditulisnya setelah itu, Al-Asy’ari berlepas diri dari segala macam keyakinan yang pernah dipegangnya sampai saat itu. Ia pun kemudian mengakui apa yang seharusnya ia jadikan pegangan dalam beragama.

“Pendapat yang kami yakini dan agama yang kami beragama dengannya adalah berpegang teguh dengan kitab Rabb kita dan sunnah Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta apa yang diriwayatkan dari para sahabat, tabi’in dan imam ahlul hadits. Kami berpegang teguh dengannya dan dengan pendapat yang diucapkan oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal nadhdharallahu wajhahu wa rafa’a darajatahu wa ajzala matsubatahu (mudah-mudahan Allah menyinari wajahnya, mengangkat derajatnya, dan melimpahkan pahala yang banyak). Kami menjauhkan diri dari pendapat-pendapat yang menyelisihi pendapat Ahmad bin Hanbal.”

Barangkali, aneh untuk menerima kenyataan ini. Yang jelas, sejak saat itulah menyebut ahlus sunnah wal jama’ah tidak lain untuk siapa saja yang mengikuti apa yang pernah diyakini Al-Asy’ari sebelum menulis Al-Ibanah min Ushul Ad-Diyanah itu. Dan sebaliknya, sebutan untuk pengikut apa yang diyakini oleh Ahmad bin Hanbal dan para ahlul hadits direduksi menjadi pengikut salaf
Rimbun Natamarga

Church of England (Serba-serbi London)

Sejak sampai di London barulah saya kenal agama Kristen aliran Church of England. Kenalnya juga gak sengaja. Saat itu sedang mengunjungi salah satu obyek wisata dan dikenalkan dengan sejarah kerajaan Inggris. Sampailah pada raja Henry VIII yang dalam sejarah tercatat menikah 6 kali. Saat itu seluruh wilayah kekuasaan kerajaan Inggris adalah penganut katolik, dengan raja sebagai penasehat tertinggi (pemimpin umat tetap seorang Uskup) . Sementara dalam ajaran agama Katolik dilarang menceraikan pasangan. Karena itulah raja tersebut membuat aliran baru bernama Church of England, yang tetap dianut keluarga kerajaan Inggris hingga sekarang. Ratu Elizabeth II yang berkuasa saat ini adalah pemimpin gereja tertinggi.




Walaupun memisahkan diri dari gereja katolik di Roma (karena bertentangan dengan keinginan raja Henry VIII), aturan dan ritual dalam aliran ini sepertinya sebagian besar tetap mengikuti tata cara Katolik. Bahkan, saat kepemimpinan ratu Mary, para pemeluk agama protestan di wilayah kekuasaan Inggris harus mengorbankan nyawa dengan cara dipancung. Tidak terkecuali jika pengikut Protestan ini masih terhitung keluarga kerajaan. Kalau Anda tau ada minuman bernama ‘Bloody Mary’, istilah ini merujuk pada kejadian tersebut. Karena tahun-tahun itu memang banyak sekali darah yang tumpah.



Namun sekarang di sekitar saya banyak gereja dengan aneka alirannya. Katedral St. Paul yang saya kagumi itu masuk ke dalam Church of England. Begitupun Westminster Abbey yang tersohor. Di dekat rumah saya ada gereja umat China, Italia dan Katolik. (Jujur saja, tinggal di London dan mengunjungi beberapa kota lain di Inggris, kita seperti dibawa ke ‘kampungnya’ gereja. Gereja ada di mana-mana!) Berdasarkan banyaknya peninggalan, ritual kerajaan dan kisah sejarah yang sangat erat dengan agama Kristen, saya rasa banyak orang Inggris saat ini ‘capek’ dengan kegiatan beragama seperti leluhur mereka dulu. Soalnya, banyak gereja yang saya lewati tadi tetap terlihat sepi di hari minggu bahkan di hari natal kemarin. Apalagi di hari lain.



Mengenal sedikit tentang aneka gereja dan kehidupan beragama Kristen di masyarakat Inggris jaman dahulu juga menambah perspektif saya atas keunikan timur dan barat. Sementara agama-agama yang lahir dari timur seperti Hindu dan Buddha tampil begitu sederhananya, agama di barat ini buat saya terlihat begitu glamornya. Tidak sedikit gereja-gereja megah yang terkadang mengupah arsitek terbaik beserta interior yang meliputi patung-patung dan pastinya lukisan dari maestro lukisan yang kita kenal hingga sekarang. Perlengkapan ritual (cawannya, salib besar, aneka jenis jubah, hingga alas meja) yang indah. Semua itu tidak hanya saya temui di gereja yang masih beroperasi, namun juga dari koleksi di museum-museum. Tidak heran kalau pemasukan negara Inggris sangat besar dari sektor pariwisata, yang sebagian besar diantaranya menjual sejarah mereka. Apalagi kalau tidak berhubungan dengan keluarga kerajaan dan sejarah negara mereka yang pastinya erat kaitannya dengan gereja. Gereja yang masih aktif seperti St. Paul saja mengutip 200ribu dari satu pengunjung. Silakan dibayangkan hitungan pemasukan mereka dari ribuan situs sejarah di seluruh negeri. Untung saja hampir semua museum gratis. Kalau setiap masuk situs bayar, bangkrut juga kita!




Saya sih masih belum bosan keliling negeri ini yang pastinya akan bertemu dengan aneka gereja lainnya. Kalau ada rejeki main ke Yunani, saya dengar ada aliran yang lain lagi di sana. But I don’t think they called it Church of Greece.


1325458856500842146

Raja Henry VIII


Finaisme