Mengungkap Sosok Tumenggung Sasradigdaya di Makam Nosari (1/2)

133223408122707821

Papan nama di cungkup makam (foto : edygune)

(Bagian pertama dari dua tulisan)

Makam Nosari (Wonosari/Wanasari) adalah sebuah komplek pemakaman yang cukup tua di kampung saya. Terletak di tengah pekarangan, di pemakaman ini dikuburkan ratusan jasad leluhur warga desa. Kondisi makam sekarang ini sudah nyaris penuh terisi sehingga hanya orang-orang tua berumur lebih dari 80 tahun saja yang kadang-kadang masih dimakamkan di sana karena mereka otomatis sudah memiliki “kapling” sejak pasangan hidup mereka meninggal puluhan tahun lampau dan dimakamkan di makam ini pula. Makam-makan tua bernisan batu kapur dan anonim dengan cungkup (rumah) rendah (sekitar 1 meter) berjejal memenuhi areal makam sehingga untuk menuju tengah pemakaman, kita harus pintar mencari celah antar nisan dan bangunan cungkup.

Nisan-nisan anonim berumur lebih dari 30 tahun banyak yang sudah tidak pernah diziarahi oleh keluarganya karena cucu dan cicit keturunannya sudah tak ingat lagi siapa saja simbah yang semasa dia kecil diziarahi oleh orang tuanya. Tidak adanya catatan siapa orang-orang yang dimakamkan di sana berserta hubungan kekerabatannya menjadikan identitas pemilik makam menjadi kabur. Nisan cetakan dari semen dan bertuliskan keterangan nama, tanggal wafat dan tahun pemberian nisan baru ada tahun 70-an. Sebelum tahun 70-an memang juga sia-sia memberi tulisan di nisan, karena mayoritas orang dewasa saat itu masih buta huruf.


Atap genting yang bocor dan kerangka bangunan cungkup yang dimakan rayap menjadikan banyak diantaranya yang perlahan-lahan runtuh dan hanya menyisakan pilar bangunan yang terbuat dari batu kapur. Ilalang kemudian tumbuh di sela-sela batu nisan.



Saat saya masih usia sekolah, beberapa kali saya mendengar adanya tokoh yang makamnya ada di pemakaman ini. Tokoh ini hanya disebut “Ndara Nggung” oleh warga, singkatan dari (Ben)dara (=tuan) Tumenggung. Siapa dia, apa jabatannya, dari mana asal-usulnya, apa hubungannya dengan keraton, siapa leluhur dan anak keturunannya, berasal dari jaman kapan, dan mengapa dimakamkan di sana adalah pertanyaan-pertanyaan yang tak diketahui jawabannya oleh warga. Sedikit keterangan yang saya peroleh dari warga yang sekarang berusia lebih dari 60 tahun, makam tersebut terakhir kali rutin diziarahi keluarganya yang datang dengan naik dokar/andong saat dia masih kecil, kira-kira jaman pemberontakan PKI tahun 1965. Posisi makam yang berada di tengah komplek sering dipakai sebagai patokan saat menjelaskan arah/posisi makam lainnya yang dimakamkan di pemakaman ini.



Adanya makam seorang tumenggung di perkampungan yang jauh dari pusat pemerintahan, jauh dari jalan raya, jauh dari pasar (pusat keramaian) dan di daerah yang namanya tak pernah disebut dalam kisah lisan, babad maupun buku sejarah tentu mengundang keingintahuan saya siapa sebenarnya Ndara Nggung ini. Satu-satunya bangunan peninggalan jaman Belanda di desa ini adalah SD Negeri (dulu Sekolah Rakyat) yang telah diganti dengan gedung baru beberapa tahun lalu. Warga yang menyandang nama Raden hanya berasal dari beberapa keluarga saja, dan itupun paling banter hanya Raden Ngabehi, serta abdi dalem keraton yang dimakamkan di desa ini hanyalah seorang berpangkat Lurah Bekel saja.




~~~



Kali pertama dan terakhir saya melongok makam ini adalah saat mengantar pemakaman seorang tetangga yang dimakamkan di dekat cungkup makam Ndara Nggung, sekitar 10 tahun yang lalu. Yang saya ingat dari makam Ndara Nggung adalah sebuah nama yang tertulis dengan aksara latin “KRT Sasradigdaya” dan nisan batu kapur yang memiliki ukuran jauh lebih besar dari nisan sekitarnya serta adanya beberapa baris tulisan arab/jawa di nisan yang tak sempat saya baca karena prosesi pemakaman hanya sekitar 30 menit saja dan pengantar segera pulang meninggalkan makam.


Beberapa tahun hidup di perantauan, suatu saat saya teringat dengan rasa penasaran mengenai makam tersebut. Sepenggal nama yang tertulis di cungkup makam saya tanyakan ke mbah Google, dan didapat 1 hasil saja dari Google Book, yaitu isi buku Katalog Naskah-naskah Perpustakaan Pura Pakualaman-Perpustakaan Pura Pakualaman, Hario Seno, Sri Ratna Saktimulya - 2005, di halaman 72 tertulis :




13322308941895093835Dua keterangan dari buku tersebut cocok dengan kondisi di lapangan, yakni nama dan gelar yang sesuai serta fakta sejarah bahwa desa saya dahulu termasuk wilayah Kabupaten Adikarta, Kadipaten Pakualaman sebelum bergabung menjadi Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jabatan dan tanggal kematian tidak bisa dikonfirmasi kesesuaiannya, serta nama daerah “Wanasari” menjadi ambigu karena ada banyak tempat yang memiliki nama Wanasari/Wonosari/Nosari di Jawa Tengah dan DIY.


1332233779147561028

badan nisan (foto : edygune)


Kesempatan pulang kampung pekan lalu menjadi momen untuk menuntaskan rasa penasaran saya. Berbekal sebuah kamera digital dan bermodal sedikit ingatan dari sekali melihat makam ini sekitar 10 tahun lalu, saya mendatangi pemakaman ini siang sebelum Jumatan, 16 Maret 2012. Bangunan cungkup yang berdesak-desakan membuat saya harus menyisir sepanjang sisi luar dari selatan ke utara dengan sesekali masuk untuk melihat dari dekat. Ingatan saya tak cukup baik. Di pemakaman yang tak terlalu luas ini, saya perlu waktu lebih dari 10 menit untuk menemukan cungkup makam Ndara Nggung.


Beberapa baris tulisan beraksara jawa di badan nisan dengan ukuran cukup besar segera tertangkap oleh mata; “Raden Tumenggung Sasradigdaya Bupati Pulisi Adikarta”. Sesuai dengan keterangan yang diperoleh dari mbah Google di atas. Dua papan batu yang seharusnya berdiri tegak di atas nisan tergolek telentang di atas nisan. Salah satunya telah pecah, yang lain hanya patah. Terukir jelas beberapa baris tulisan beraksara arab, entah berbahasa arab atau jawa (pegon). Isinya pasti informasi yang cukup berharga dan perlu waktu untuk menerjemahkannya.



13322345431638960114

papan nisan (foto : edygune)


(bersambung ke bagian dua, insyaAllah).

Edi gune

Tidak ada komentar:

Posting Komentar