Membuka Jalan Baru” Tinjauan Sejarah Awal Jember Menjadi Kota

1335155403848872977
Aloen-Aloen Poeger1892

Tembakau menjadi lambang Pemerintah Kabupaten Jember. Kejayaan perkebunan tembakau yang disebut sebagai “emas hijau” dianggap membawa perubahan bagi wilayah Jember menjadi sebuah kota yang diperhitungkan di antara wilayah-wilayah lain di Jawa dan Indonesia.

Perkebunan tembakau di Jember berkembang pesat pada tahun 1850-an dengan didirikannya perusahaan perkebunan. Kenyataan ini oleh banyak kalangan dianggap sebagai titik awal berkembangnya wilayah Jember, terutama bagian utara yang menjadi lahan subur bagi perkebunan.


Munculnya perusahaan perkebunan ini membutuhkan tenaga pekerja yang tidak sedikit. Maka didatangkan tenaga kerja dari Jawa dan Madura untuk menjadi tenaga kerja di perkebunan di berbagai wilayah Jember.


Bermula dari sebuah dusun dengan hutan belantara yang diselingi tanah tinggi menuju pegunungan tahap demi tahap berkembang sebagai pemukiman yang multicultural sebagai basis untuk menjadi kota. Jauh sebelum tahun 1800, Jember yang dimaksud dengan wilayah kota Jember, telah dihuni masyarakat yang bercorak agraris.


Para naturalis (peneliti ilmu alam terutama botanis) di awal abad 19 M (tahun 1800-an) telah melakukan perjalanan untuk menelusuri Pulau Jawa Bagian Timur (Java’s Oosthoek). Di antara mereka adalah Horsfield, Junghun, Bosch, serta Hageman.


Perjalanan yang dilakukan para naturalis ini dimuat dalam jurnal dan buku sebagai catatan laporan. Jurnal-jurnal yang memuat laporan para naturalis ini antara lain Tijdschrift Voor Nederlandsch Indie , Tijdschrift Indische Taal-, Land- En Volkenkunde , serta Tijdschrift voor Nijverheid en Landbouw In Nederlandsch Indie. Jurnal-jurnal ini diterbitkan pada pertengahan abad ke-19 Masehi (antara tahun 1850 sampai 1900).


Keterangan-keterangan dari para naturalis ini “membuka jalan baru” bagi upaya menjelaskan masa lalu wilayah Kabupaten Jember. Bahwa jauh sebelum abad ke-19 (sebelum tahun 1800) wilayah Kabupaten Jember memiliki identitas sebagai wilayah yang subur dengan sumber daya alam yang beraneka ragam dan kaya.


Tujuan utama dari para naturalis sangat berkaitan denga tujuan kaum kolonialis Eropa / Belanda untuk mengetahui lebih jauh dan lebih banyak sumber daya alam dari bumi Nusantara terutama Java’s Oosthoek. Taal (bahasa), Land (tanah) dan Volkenkunde (kebudayaan) menjadi tema-tema utama dari pengamatan dan penelitian para naturalis tersebut.


Wilayah selatan Kabupaten Jember (yaitu Puger) pada abad ke 18 Masehi (tahun 1700-an) telah berkembang lebih dahulu dibandingkan wilayah utara. Bahkan wilayah Puger pada masa ini dan sebelumnya meliputi Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Jember sekarang ini. Keterangan dapat dilihat dari laporan perjalanan C. J. Bosch yang berjudul “Aanteekeningen Over De Afdeeling Bondowoso (Residentie Bezoeki)” yang termuat dalam jurnal Tijdschrift Voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde Deel VI, yang diterbit di Batavia oleh Lange & Co pada tahun 1857.


Perubahan kewilayahan terjadi setelah tahun 1757. Pangeran Ario Wiro Dhi Ningrat (sebagai orang Mataram) sampai tahun 1757 menjadi Adhipati (Bupati) di Het Regentschap Poeger (Bosch; hal. 476). Pada tahun 1757 Pangeran Ario Wiro Dhi Ningrat tewas dalam suatu pertempuran melawan bala tentara Blambangan.


Akibat perang ini, wilayah het regentschap Poeger terpecah menjadi empat distrik yang masing-masing dikepalai seorang bekel yang mempunyai kekuasaan tidak terikat dengan yang lainnya, yaitu: di Puger sendiri, di Jember, di Sentong dan Pradjekan. Setelah ini tidak ada penguasa yang dominan di wilayah Puger.


Bagian selatan, yaitu Puger, sering terjadi konflik politik yang berujung pada peperangan. Kenyataan ini memberi kesempatan berkembangnya wilayah utara, seperti Jember. VOC meletakkan pos sepasukan tentara di Jember. Pos di Jember antara tahun 1757 sampai 1783 pernah ditempatkan Serjant Jansen sebagai komandan Pos di Jember (Bosch: hal. 477).


Pendirian pos tentara di Jember ini salah satu factor dominan yang mendorong perkembangan ekonomi di wilayah desa Jember. Pertumbuhan pemukiman bangsa Eropa di Jember terjadi sebelum tahun 1800.


Data yang diperoleh menunjukkan bahwa daerah selatan wilayah Kabupaten Jember saat ini lebih berkembang terlebih dahulu dibandingkan di bagian utara. Puger telah menjadi sebagai kota pelabuhan yang pernah memegang peranan penting setelah Blambangan dapat ditaklukkan oleh VOC.


Keberadaan wilayah Puger dan Jember pada awal abad 19 (antara tahun 1800-1844) telah dikunjungi oleh para peneliti atau naturalis Eropa. Para peneliti / naturalis ini antara lain Horsfield pada tahun 1805, serta Junghun, Zollinger dan Bosch pada tahu 1844, serta Hageman. Kenyataan ini dijelaskan oleh J. Hageman dalam artikelnya berjudul “Over Nijverheid In Zuidoostelijk Java” dalam jurnal Tijdschrift Voor Nijverheid En Landbouw In Nederlandsch Indie, Dell VIII yang diterbitkan di Batavia oleh W. Ogilvie pada tahun 1862. Pada tahun 1770 di Jember dan Puger, serta di Pulau Nusa Barong dan Lumadjang terdapat pos-pos pasukan tentara VOC (Hageman: hal 28).


Bukti sejarah di atas menunjukkan bahwa Jember (terutama Puger) telah berkembang jauh sebelum perkebunan tembakau yang dikembangkan Birnie pada tahun 1850-an. Perkebunan tembakau tersebut merupakan hasil dari perkembangan masa sebelumnya. Bukti-bukti sejarah ini membuka “jalan baru” untuk melihat perkembangan wilayah Jember jauh sebelum abad ke – 19 (sebelum tahun 1800). Ini sangat berguna untuk menemukan identitas wilayah Kabupaten Jember secara utuh.


Antara tahun 1792 sampai dengan 1847, wilayah pemerintahan Puger (yang disebut juga gewest Poeger) meliputi Rambi, Djember, Berginding, Poeger, Blatter, Kedawong, Toengoel Koeripan (Tanggul) serta Sabrang. Wilayah ini terbagi dalam tiga distrik (kawedanan) yaitu Djember, Tangoel dan Poeger. Wilayah Puger (het landschap poeger) yang meliputi distrik Djember, Tangoel dan Poeger pada tahun 1792 mempunyai penduduk 640 rumah tangga, namun pada tahun 1847 meningkat menjdi 20.092 rumah tangga (Hageman: hal. 31)


Informasi yang diperoleh dari laporan Hageman 1862 terdapat statistik (data) tentang jumlah penduduk dan luas wilayah Poeger antara 1815 sampai 1846 (Hageman: hal. 30).
























Poeger 1815



Poeger 1846



Jumlah Desa



52



79



Penduduk



1.854



18.166



Data dan informasi Hageman (hal. 30) menunjukkan dalam wilayah landschap poeger terjadi dua pertumbuhan utama. Pertama, pertumbuhan penduduk selam 31 tahun (antara 1815 – 1846) dari juml;ah 1.854 penduduk pada tahun 1815 bertambah jumlahnya menjadi 18.166 pada tahun 1846 sehingga terjadi penambahan penduduk sejumlah 16.312 penduduk selama 31 tahun. Kedua, terjadi penambahan jumlah desa selama 31 tahun dari 52 desa pada tahun 1815 menjadi 79 desa pada tahun 1846, sehingga selama kurun waktu 31 tahun terjadi penambahan desa sejumlah 25 desa.


Wilayah Landschap Poeger antara 1815 – 1846 adalah 1462 pal persegi (1 pal = 1,5 km sehingga 1 pal persegi = 2,25 km persegi) (Hageman hal. 30). Wilayah 1462 pal persegi dikonversikan dalam km persegi menjadi sama dengan 3289, 5 km persegi. Wilayah Landschap Poeger tidak jauh berbeda luasnya dengan wilayah Kabupaten Jember saat ini, lihat perbandingan luas wilayah Kabupaten Jember saat ini seluas 3.293, 34 km persegi (Kabupaten Jember Dalam Angka, 2004, hal . 9).



















Regentschap Poeger 1815 -1846



3.289,50 km persegi



Kabupaten Jember 2004



3.292,34 km persegi



Selisih



2,84 km persegi




Ini membuktikan adanya relevansi atau hubungan yang nyata antara Regentschap Poeger pada masa lalu dengan Kabupaten Jember pada saat ini. Proses terbentuknya Kabupaten / Regentschap Jember pada tahun 1928 tidak dapat lepas dari realitas adanya Regentschap Poeger. Bukti historis sangat kuaat, bukanlah mitos.


Sejarah perkembangan masyarakat di wilayah Kabupaten Jember tidak hanya didominasi oleh Sejarah Perkebunan yang realitas historisnya baru berkembang pada tahun 1850-an. Sedangkan jauh sebelum periode perkebunan terdapat suatu realitas historis yang menjadi pembentuk identitas wilayah Kabupaten Jember sebagai bagian dari Regentschap Poeger.


Ini merupakan “jalan baru” dari upaya menemukan proses perkembangan masyarakat dan budaya wilayah Kabupaten Jember secara komprehensif dan utuh. Berbagai patahan sejarah perlu disambung satu demi satu untuk mendapatkan gambaran secara utuh tentang apa dan bagaimana proses terjadi dan menjadinya Kabupaten Jember.

(Y. Setiyo Hadi—copyright)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar