Meunasah di Hiroshima



PADA 16-21 September 2011 lalu saya menjadi tamu sekaligus salah satu pembicara pada Konferensi Internasional tentang Damai dari Bencana atau HiPec International Peacebuilding Conference 2011 dengan judul: Peace from Disasters-Indigenous Initiative across Communities, Countries, and Continents.
Dari Singapura, saya naik ANA Airlines, maskapai penerbangan perusahaan Jepang. Pesawat mendarat mulus di Bandara Internasional Haneda, Tokyo pada pukul 06.00 pagi. Kemudian menuju penginapan. Dua malam pertama saya menginap di Hotel Mielparque, kemudian pindah ke Hotel Sunroute Hiroshima.


Acara konferensi berlangsung 18-19 September 2011 di Hiroshima International Conference Hall yang terletak di area Peace Memorial Park, Hiroshima.



Konferensi ini digelar atas kerja sama Hiroshima University Partnership Project for Peacebuilding and Capacity Development (HiPec) dengan Universitas Hiroshima, Jepang, dan the Global COE Program, Development and Systematization of Death and Life Studies, Universitas Tokyo.






Konferensi dirancang menggunakan penerjemah dalam dua bahasa: Inggris dan Jepang. Tujuan konferensi ini untuk mencari komitmen serta kosep penanganan bencana maupun rekonstruksi yang damai serta konflik resolusi dunia dengan mendengarkan pemaparan serta pengalaman yang disampaikan oleh pembicara dari berbagai negara.






Mewakili Indonesia, saya mendapat giliran presentasi keempat. Pembicara lainnya berasal dari Nepal, Mesir, Filipina, India, Sri Lanka, Bangladesh, Kanada, Selandia Baru, dan Jepang.

Saat presentasi, saya bahas tentang Means of Struggle: Beyond of the State. Makalah saya ini saya susun berdasarkan abstrak untuk sesi panel III dengan tema: Spiritual Reconciliation from Devastations. Ini dimaksudkan untuk menjawab konsep bahwa kerusakan oleh bencana alam atau konflik akibat ulah manusia yang dapat meluas jadi kerusuhan sosial, dapat menjadi hambatan besar bagi perdamaian. Sesi ini lebih memperhatikan aspek-aspek spiritual dari pembangunan manusia dalam proses rekonstruksi dari kehancuran dalam rangka menemukan jalan menuju kebangkitan. Maka, saya beri catatan bahwa arti spirituality dapat diuraikan dari aspek komitmen personal, nilai-nilai religius, keyakinan, budaya, dan kognisi.


Selanjutnya saya paparkan tentang kehidupan dan budaya Aceh yang dipengaruhi oleh nilai-nilai spiritual Islam dan menjadi kekuatan dalam upaya struggle dan survival selama bertahun-tahun hidup dalam perang dan konflik sejak abad 16 sampai kemudian masuk ke era pembangunan damai setelah penandatanganan Nota Kesepahaman Damai antara RI dan GAM pada 15 Agustus 2005 di Helsinki.


Saya paparkan juga budaya sufism di Aceh sebagai medium untuk peacebuilding, di mana ada perubahan dalam pemaknaan jihad dan sahid dalam budaya Aceh. Pemaknaan jihad di masa lalu dapat ditemukan dalam berbagai hikayat, misalnya Hikayat Malem Dewa, Perang Sabil, dan Raja-raja Pasai. Di sana diekspresikan aspek heroisme karena ada tujuan khusus, yakni melawan kezaliman. Namun, pemaknaan jihad dan sahid pada masa kini, masa damai, telah bertransformasi menjadi bekerja keras, beribadah, dan bersedekah untuk kualitas kehidupan dan kesejahteraan menjadi lebih baik.





Hal lain yang saya sampaikan adalah bagaimana keyakinan tentang makna musibah sebagai suatu ujian dari Allah, telah menjadi kekuatan spiritual bagi para penyintas (survivor) ketika bangkit dari bencana.



Fungsi meunasah



Sri Wahyuni


Secara khusus saya paparkan juga tentang bagaimana berfungsinya kembali meunasah (surau) sebagai medium kekuatan spiritual masyarakat Aceh dalam konteks struggle dan survival, karena fungsi meunasah dalam budaya Aceh adalah sebagai tempat berkumpul, bermusyawarah, beribadah, serta pendidikan karakter. Saya katakan bahwa pada masa konflik sangatlah sulit bagi masyarakat Aceh berkegiatan di meunasah. Tapi setelah damai sekarang ini, meunasah telah kembali ke fungsi awalnya yang multiguna.



Konferensi hari kedua justru lebih difokuskan untuk mendiskusikan lebih mendalam ketiga tema panel dan merumuskan sintesa dan pernyataan serta komitmen bersama. Akhirnya, konferensi penting itu ditutup dengan resmi sekitar pukul 13.30 dengan makan siang bersama.



Terakhir, sesuai rancangan panitia, pada 20 September kami mengunjungi Miyajima Island, lokasi yang ditetapkan UNESCO sebagai World Heritage Site. Kunjungan ke pulau mungil ini sebagai sarana untuk memahami budaya Jepang. Kami harus naik kapal kecil menuju lokasi tersebut dan memakan waktu sekitar satu jam.

Sri Wahyuni, Direktur Aceh Cultural Institute dan Patimadora Banda Aceh, Report From Jepoun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar