Magis Piramida di Gunung Padang

Wisatawan berkunjung ke kawasan punden berundak Gunung Padang, Desa Karya Mukti, Kecamatan Campaka, Cianjur, Jawa Barat, Minggu (29/1). Akses jalan yang buruk membuat situs megalitik terbesar di Asia Tenggara ini masih kurang populer kalangan umum. TEMPO/Prima Mulia

Ribuan batu yang terserak di punggung Gunung Padang menjadi saksi bisu peradaban yang pernah menghuni kawasan Cianjur ribuan tahun lalu. Para ahli mencoba merekonstruksi pemandangan daerah megalitik ini.


Situs Gunung Padang terdiri atas lima tingkat halaman–disebut teras–yang berjejer pada satu sisi bukit. Teras-teras bersusun memanjang menghadap ke Gunung Gede yang berada 25 kilometer di barat laut situs.

Menurut Anggota Ikatan Arsitek Indonesia Pon Purajatnika, susunan yang menghadap ke Gunung Gede memberi petunjuk paradigma spiritual masyarakat pada masa itu. Gunung Gede dianggap sebagai simbol kepercayaan manusia terhadap gunung.”Gunung Padang pernah menjadi tempat ritual suci,” kata Pon di Jakarta, Selasa, 7 Februari 2012.

Dugaan lokasi ritual ini diperkuat dengan keberadaan meja batu di teras terbawah. Dahulu, meja ini menjadi lokasi persimbahan darah kerbau yang diserahkan kepada leluhur. Ukuran meja sendiri dibuat untuk sanggup memuat tubuh kerbau.


Di malam hari, pemandangan menjadi lebih mengesankan. Sesuai namanya, Gunung Padang berarti tempat yang terang benderang. Hal ini wajar karena dari lokasi ini masyarakat bisa menyaksikan taburan bintang di langit. Sebulan sekali, lahan seluas 900 meter persegi ini akan menjadi sangat terang akibat diguyur cahaya purnama.


Hokky Situngkir dari Sosiologi Komputasi Bandung Fe Institute memiliki gambaran lain. Menurut dia, Gunung Padang juga dipakai untuk memantau waktu dan musim. Terbukti dengan keberadaan sepetak tanah yang dibatasi batu-batu kecil dengan satu batu balok besar di bagian tengah.



Lokasi ini dijadikan sebagai jam matahari untuk mengetahui pergerakan harian matahari. Bagitu pula dengan batu duduk yang diposisikan menghadap ke utara. Dari titik tersebut, tetua adat bisa memantau pergerakan bintang-bintang di kutub utara. Tetua juga bisa melihat rasi bintang tertentu yang menandakan pergantian musim.


“Tradisi mengantisipasi pergantian musim dengan melihat bintang masih diturunkan hingga petani tradisional masa sekarang,” kata Hokky.


Pengaturan waktu bercocok tanam ini bertepatan dengan keberadaan lokasi pertanian tepat di seberang sungai yang mengalir di utara teras pertama. Pertanian yang makmur membuat peradaban Gunung Padang bisa bertahan di tengah keganasan alam.


Temuan lain menyangkut alat musik dari batu atau biasa disebut sebagai litofon. Terdapat empat batu yang mengeluarkan nada pada frekuensi tertentu jika dipukul. Pada berbagai peradaban, alat musik seperti ini banyak dipakai untuk mengiringi ritual, membangun suasana magis pada upacara sakral. Selain itu, bunyi-bunyian juga bisa dipakai sebagai alat komunikasi jarak jauh kepada masyarakat agraris pada waktu itu untuk mulai menanam dan memanen.


Terdapat kemungkinan lain. Menurut Hokky, litofon juga bisa dipakai sebagai tanda peringatan. Peringatan ini berlaku ketika akan melakukan perang atau bencana menjelang.

ANTON WILLIAM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar